Kenapa Berpikir Saja Tidak Cukup: Catatan dan Refleksi Scientific Temper
Catatan dan refleksi dari pemaparan Prof. Iwan Pranoto mengenai perbedaan berpikir dan bernalar, serta pentingnya menumbuhkan scientific temper.
Catatan dan refleksi dari pemaparan Prof. Iwan Pranoto mengenai perbedaan berpikir dan bernalar, serta pentingnya menumbuhkan scientific temper.
Catatan tentang pertemuan dua orientasi waktu, konflik entropi lokal, dan kemungkinan waktu sebagai bentuk siklik.
Peringatan: Jika setelah selesai membaca esai ini pikiran pertamamu adalah “Ini pasti ditulis AI”, maka tulisan ini memang sedang membicarakanmu. Ketika aku scroll konten di internet akhir-akhir ini, pertanyaan yang paling sering muncul di komentar bukan “Apa yang mungkin senimannya rasakan?”, tapi pertanyaan yang lebih keren, dari sudut pandang yang berkomentar, (mungkin): “Apakah ini AI?” Lucu sekali, kan? Atau menyedihkan? Bayangkan seseorang memainkan piano dengan indah Apakah reaksi pertamamu adalah menikmati harmoni dan emosi yang muncul? Atau justru bertanya-tanya apakah jari-jari itu milik manusia atau bukan? ...
Konsep proposisi membantu analisis logika, tetapi status keberadaannya sebagai entitas abstrak masih menjadi bahan perdebatan filosofis.
Proposisi bisa dipahami sebagai bentuk makna yang diekspresikan oleh kalimat deklaratif, bukan sebagai kalimat itu sendiri.
Proposisi memiliki tingkatan struktur: bentuk atomik yang sederhana dan bentuk molekuler yang terbentuk melalui operator logika.
Sebuah proposisi harus bisa dievaluasi sebagai benar atau salah, sehingga tidak semua bentuk kalimat bisa disebut proposisi.
Catatan tentang batas model linear dalam memahami pertemuan dua arah waktu yang berlawanan.
Di artikel sebelumnya, aku menyatakan bahwa identitas adalah proses yang terus bergerak, yang menggembangkan asumsi kita terhadap diri sendiri. Namun, pertanyaan itu belum selesai: bagaimana jika identitas justru merupakan label yang dilekatkan oleh pihak luar? Untuk memahaminya, kita bisa melihat bagaimana identitas umumnya diverifikasi. Dalam kehidupan sehari-hari, identitas sering kali direduksi menjadi data seperti nama, tempat lahir, status,atau pekerjaan. Seolah-olah dengan data itu seseorang sudah bisa “dipahami.” Hal yang mirip terjadi dalam biologi. Untuk mengenali suatu organisme, dibutuhkan berbagai indikator dari morfologi, anatomi, fisiologi, bahkan data molekuler. Proses ini kompleks dan kerennya taksonomi sering dianggap sebagai salah satu bidang paling “abu-abu” dalam biologi. ...
Ada satu masa di mana aku merasa seperti orang aneh di tengah orang normal (sekarang masih aneh sih). Sebagai mahasiswa komunikasi saat itu,hal yang normal dilakukan adalah melatih teknik persuasi atau tampil percaya diri di depan publik. Namun, kenyataannya aku justru menghindarinya. Alih-alih bergabung dalam diskusi yang membahas metode praktis, aku lebih sering duduk menyendiri di depan fakultas psikologi, membayangkan jika aku adalah mahasiswa psikologi aku pasti mengejek penis envy yang di ajukan sigmund freud dengan percaya diri. ...