Cosmos bipinnatus: Bunga Merah di Pekarangan
Catatan observasi tentang satu individu Cosmos bipinnatus merah tua yang muncul di antara bunga pink dan putih di pekarangan rumah.
Catatan observasi tentang satu individu Cosmos bipinnatus merah tua yang muncul di antara bunga pink dan putih di pekarangan rumah.
Catatan dan refleksi dari pemaparan Prof. Iwan Pranoto mengenai perbedaan berpikir dan bernalar, serta pentingnya menumbuhkan scientific temper.
Catatan tentang pertemuan dua orientasi waktu, konflik entropi lokal, dan kemungkinan waktu sebagai bentuk siklik.
Peringatan: Jika setelah selesai membaca esai ini pikiran pertamamu adalah “Ini pasti ditulis AI”, maka tulisan ini memang sedang membicarakanmu. Ketika aku scroll konten di internet akhir-akhir ini, pertanyaan yang paling sering muncul di komentar bukan “Apa yang mungkin senimannya rasakan?”, tapi pertanyaan yang lebih keren, dari sudut pandang yang berkomentar, (mungkin): “Apakah ini AI?” Lucu sekali, kan? Atau menyedihkan? Bayangkan seseorang memainkan piano dengan indah Apakah reaksi pertamamu adalah menikmati harmoni dan emosi yang muncul? Atau justru bertanya-tanya apakah jari-jari itu milik manusia atau bukan? ...
Esai tentang bagaimana kerusakan ekologis bisa terlihat sebagai pertumbuhan ketika sistem pengukuran ekonomi hanya menghitung transaksi, tetapi gagal melihat kehilangan biologis yang menyertainya.
Esai tentang ilusi bahwa ekonomi bisa dipisahkan dari ekosistem, padahal seluruh aktivitas ekonomi berdiri di atas fondasi biologis dan ekologis.
Catatan tentang batas model linear dalam memahami pertemuan dua arah waktu yang berlawanan.
Kalau aku adalah cermin, dan cermin adalah kamu, maka kita adalah satu. Kedengarannya romantis. Tapi secara logika… ini terasa horor
Di sebuah pemakaman di Wina, terukir sebuah persamaan tentang entropi pada nisan Ludwig Boltzmann. Jika identitas kita adalah sebuah sistem, persamaan ini menjelaskan mengapa kita butuh ruang untuk menjadi ‘berantakan’ agar bisa terus berkembang.
Di artikel sebelumnya, aku menyatakan bahwa identitas adalah proses yang terus bergerak, yang menggembangkan asumsi kita terhadap diri sendiri. Namun, pertanyaan itu belum selesai: bagaimana jika identitas justru merupakan label yang dilekatkan oleh pihak luar? Untuk memahaminya, kita bisa melihat bagaimana identitas umumnya diverifikasi. Dalam kehidupan sehari-hari, identitas sering kali direduksi menjadi data seperti nama, tempat lahir, status,atau pekerjaan. Seolah-olah dengan data itu seseorang sudah bisa “dipahami.” Hal yang mirip terjadi dalam biologi. Untuk mengenali suatu organisme, dibutuhkan berbagai indikator dari morfologi, anatomi, fisiologi, bahkan data molekuler. Proses ini kompleks dan kerennya taksonomi sering dianggap sebagai salah satu bidang paling “abu-abu” dalam biologi. ...