Simpul Waktu Bagian II: Dua Panah di Satu Cangkir Kopi
Catatan tentang pertemuan dua orientasi waktu, konflik entropi lokal, dan kemungkinan waktu sebagai bentuk siklik.
Catatan tentang pertemuan dua orientasi waktu, konflik entropi lokal, dan kemungkinan waktu sebagai bentuk siklik.
“Kalau kita benar-benar memprioritaskan biosfer di atas spesies kita sendiri, sejauh mana argumen itu bisa dibawa?” Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi ia diam-diam membawa pisau kecil ke pusat etika manusia. Selama ini, banyak argumen konservasi alam tetap bergerak dalam orbit yang human-centered: hutan perlu dijaga karena memberi oksigen untuk manusia, laut perlu diselamatkan karena menopang pangan manusia, iklim perlu distabilkan karena peradaban manusia akan terganggu. Tidak salah. Manusia memang bagian dari biosfer, dan penderitaan manusia bukan sesuatu yang bisa disapu dari meja diskusi. Namun, ada asumsi yang jarang diuji: apakah manusia harus selalu menjadi pusat moral dari seluruh percakapan ekologis? ...
Peringatan: Jika setelah selesai membaca esai ini pikiran pertamamu adalah “Ini pasti ditulis AI”, maka tulisan ini memang sedang membicarakanmu. Ketika aku scroll konten di internet akhir-akhir ini, pertanyaan yang paling sering muncul di komentar bukanlah “Apa yang mungkin senimannya rasakan?”, melainkan pertanyaan yang jauh lebih keren, dari sudut pandang yang berkomentar, (mungkin): “Apakah ini AI?” Lucu sekali, bukan? Atau menyedihkan? Bayangkan seseorang memainkan piano dengan begitu indah hingga membuatmu terdiam. ...
Esai tentang bagaimana kerusakan ekologis bisa terlihat sebagai pertumbuhan ketika sistem pengukuran ekonomi hanya menghitung transaksi, tetapi gagal melihat kehilangan biologis yang menyertainya.
Esai tentang ilusi bahwa ekonomi bisa dipisahkan dari ekosistem, padahal seluruh aktivitas ekonomi berdiri di atas fondasi biologis dan ekologis.
Catatan tentang batas model linear dalam memahami pertemuan dua arah waktu yang berlawanan.
Kalau aku adalah cermin, dan cermin adalah kamu, maka kita adalah satu. Kedengarannya romantis. Tapi secara logika… ini terasa horor
Di sebuah pemakaman di Wina, terukir sebuah persamaan tentang entropi pada nisan Ludwig Boltzmann. Jika identitas kita adalah sebuah sistem, persamaan ini menjelaskan mengapa kita butuh ruang untuk menjadi ‘berantakan’ agar bisa terus berkembang.
Di artikel sebelumnya, aku menyatakan bahwa identitas adalah proses yang terus bergerak, yang menggembangkan asumsi kita terhadap diri sendiri. Namun, pertanyaan itu belum selesai: bagaimana jika identitas justru merupakan label yang dilekatkan oleh pihak luar? Untuk memahaminya, kita bisa melihat bagaimana identitas umumnya diverifikasi. Dalam kehidupan sehari-hari, identitas sering kali direduksi menjadi data seperti nama, tempat lahir, status,atau pekerjaan. Seolah-olah dengan data itu seseorang sudah bisa “dipahami.” Hal yang mirip terjadi dalam biologi. Untuk mengenali suatu organisme, dibutuhkan berbagai indikator dari morfologi, anatomi, fisiologi, bahkan data molekuler. Proses ini kompleks dan kerennya taksonomi sering dianggap sebagai salah satu bidang paling “abu-abu” dalam biologi. ...
Ada satu masa di mana aku merasa seperti orang aneh di tengah orang normal (sekarang masih aneh sih). Sebagai mahasiswa komunikasi saat itu,hal yang normal dilakukan adalah melatih teknik persuasi atau tampil percaya diri di depan publik. Namun, kenyataannya aku justru menghindarinya. Alih-alih bergabung dalam diskusi yang membahas metode praktis, aku lebih sering duduk menyendiri di depan fakultas psikologi, membayangkan jika aku adalah mahasiswa psikologi aku pasti mengejek penis envy yang di ajukan sigmund freud dengan percaya diri. ...