Aku baru menyadari aku belum benar-benar memahami apa itu bahasa.
Di sesi 1 kuliah Bahasa Indonesia, ada pertanyaan forum diskusi seperti ini:

pertanyaan tutor di forum diskusi
Aku sudah menjawabnya secara normatif menggunakan informasi dari modul universitas. Tapi, jawaban itu sebenarnya memicu beberapa pertanyaan di kepalaku tentang hakikat bahasa itu sendiri.
Untuk pertanyaan pertama, apakah Budi dan Wati sedang berbahasa? Meskipun encoding-nya tidak umum, modul mendeskripsikan bahasa sebagai bunyi yang melambangkan sesuatu; simbol-simbol yang digunakan berdasarkan sistem yang berlaku sehingga menimbulkan makna. Jika Budi dan Wati bisa saling mengerti, berarti ada sebuah sistem definisi yang mereka berdua gunakan. Kesimpulanku: mereka sedang berbahasa.
Tapi, di titik inilah aku mulai bingung. Aku mereduksi definisi bahasa menjadi: “sistem simbol yang digunakan organisme untuk saling berkomunikasi”. Sayangnya, reduksiku ini seolah gagal membedakan bagaimana manusia berkomunikasi dengan sinyal organisme lain. Kalau Budi berkata “Kavamuvu davapavat…”, lalu ada kucing yang mengeluarkan suara “meong” dengan intonasi tertentu, bukankah keduanya sama-sama mengeluarkan bunyi yang melambangkan sesuatu bagi penuturnya? Jika memang beda, di mana letak batas perbedaannya? Itulah yang tidak aku pahami.
Lalu, berlanjut ke soal nomor 2: apakah percakapan Budi dan Wati menunjukkan sifat arbitrer pada bahasa? Jujur, aku kurang memahami secara eksplisit apa itu sifat arbitrer. Berdasarkan deskripsi di modul, arbitrer bermakna “sewenang-wenang” sehingga tidak dapat dijelaskan berdasarkan pertimbangan nalar/logika, dan tidak ada “hubungan alami” antara objek yang diberi simbol dengan maknanya.
Yang aku tidak mengerti, apa maksud “hubungan alami” di sini? Bukankah proses kita membuat simbol dan memaknainya bertumpu pada aktivitas kognitif di otak, yang notabene adalah proses alami itu sendiri? Apakah hasil dari proses kognitif yang terbentuk selama bertahun-tahun ini dianggap tidak alami?
Klaim bahwa bahasa “tidak dapat dijelaskan berdasarkan pertimbangan logika” juga membingungkanku. Bukankah bahasa adalah sebuah sistem logika? Setidaknya dalam model mentalku, bahasa punya substitusi, sintaksis, dan struktur yang bisa meng-generate output baru dari elemen-elemen dasar yang terbatas. Bagiku, itu identik dengan sistem logika; bahasa mengandung sub-struktur yang sangat logic-like.
Tulisan ini belum punya konklusi, setidaknya inilah titik ketidaktahuanku saat ini.