Di forum e-learning kampus, aku adalah inkarnasi dari mahasiswa teladan.

Jika sistem meminta analisis, aku menyajikannya.

Jika tutor menuntut kutipan, aku berikan lengkap dengan format APA Style edisi ke-7, bahkan sampai menyitasi video YouTube tanpa referensi akademik yang dibagikan oleh sang tutor itu sendiri. ◉_◉

Ibaratnya, aku sedang melakukan malicious compliance: sebuah kepatuhan mutlak demi memenuhi hasrat administratif sistem. Aku bisa memberikan persis apa yang birokrasi kampus inginkan agar nilaiku aman dan rubrik penilaian mereka terpenuhi.

Tapi mari kita jujur, ada harga yang harus dibayar dari kepatuhan semacam itu.

Ceritanya bermula dari soal forum diskusi Sesi 2 kemarin. Mahasiswa diminta membedah sebuah studi kasus menggunakan teori pemahaman membaca dari Smith (1987) yang terdapat di modul halaman 1.3. Ya, pertanyaan tersebut secara spesifik memang meminta kami mencantumkan referensi yang spesifik pula.

Rasanya seperti sebuah sindiran kepadaku yang sebelumnya menjawab pertanyaan tanpa mencantumkan referensi secara eksplisit dalam format akademik.

Saat itu, aku berpikir bahwa penggunaan term spesifik yang terdapat dalam textbook, ditambah konteks bahwa aku adalah mahasiswa yang sedang menjawab pertanyaan berdasarkan modul, seharusnya cukup membuat dosen, tutor, atau mahasiswa lain memahami bahwa kalimatku merupakan hasil sintesis antara pemikiranku dan informasi yang tersedia dalam modul.

Meskipun, aku akhirnya menyadari bahwa referensi dalam konteks akademik memang memiliki fungsi yang lebih penting daripada sekadar formalitas. Referensi memberikan transparansi mengenai asal suatu klaim, sehingga pembaca dapat memverifikasinya dan menilainya sendiri.

Di kolom jawaban forum Sesi 2, aku pun memaparkan jawaban berdasarkan informasi yang diminta dengan patuh. Aku menguraikan bagaimana membaca terbagi menjadi pemahaman literal, interpretasi, kritis, dan berujung pada puncak tertingginya: membaca kreatif. Tutor pasti tersenyum puas melihat jawaban yang begitu textbook.

Namun, di balik layar, kepalaku sebenarnya berisik oleh serangkaian pertanyaan konseptual yang mengarah pada pandangan berbeda dari modul tersebut.

Aku sadar, jika aku nekat menumpahkan pertanyaan dan celah logika yang kutemukan ke dalam forum diskusi, sistem mungkin tidak akan menerimanya sebagai “diskusi”. Ya, karena meskipun labelnya adalah “forum diskusi”, dari pengalamanku sejauh ini, yang kelihatan di sana lebih menyerupai tanya jawab satu arah: tutor memberikan persoalan, mahasiswa menjawab, lalu jawaban dievaluasi oleh tutor.

Tetapi ini tetap merupakan asumsi yang dasarnya berasal dari pengalaman subjektifku. Aku sebenarnya tidak tahu apakah terdapat bentuk diskusi yang ideal bagiku di forum e-learning ini.

Karena itu, daripada mengubah kolom jawaban forum menjadi arena untuk membongkar asumsi teoretis yang bahkan belum selesai kupetakan sendiri, aku memilih memisahkan dua hal tersebut. Jawaban forum tetap kuberikan sesuai kerangka yang diminta. Sementara itu, pertanyaan yang muncul setelah membaca kerangka tersebut sepertinya lebih cocok dibiarkan tumbuh menjadi tulisan tersendiri.

Ketika Batas Literal dan Interpretasi Menjadi Kabur

Pertama-tama, aku perlu mengutip bagian spesifik dari textbook yang sedang kupertanyakan, sekaligus menunjukkan bagian yang berbeda dari pemahaman intuitifku.

“Bentuk lisan maupun tulisan. Di dalam pemahaman, terdapat unsur tujuan, sikap, dan respons yang dapat mewakili suatu pengertian dari pesan yang disampaikan. Smith dalam Solkhan (1987) membagi pemahaman dalam membaca menjadi empat kategori, yaitu (a) membaca pemahaman literal, (b) membaca interpretasi, (c) membaca kritis, dan (d) membaca kreatif.” (Santoso et al., 2024, hlm. 1.3)

Kutipan tersebut menunjukkan bahwa textbook mengategorikan pemahaman membaca ke dalam empat bentuk berdasarkan Smith dalam Solkhan (1987).

Namun, aku masih menemukan batas yang kurang jelas antara pemahaman literal dan interpretasi. Misalnya, ketika pembaca memahami makna suatu kata berdasarkan makna leksikal atau definisi kamus, apakah proses tersebut selalu termasuk pemahaman literal? Atau, ketika pembaca menentukan makna suatu kata berdasarkan konteks penggunaannya, apakah proses tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai interpretasi?

Aku juga tidak tahu bagaimana Smith mendeskripsikan tiap kategorinya secara langsung. Komentarku di sini hanya berdasarkan pemaparan yang tersedia dalam textbook.

“Pemahaman literal merupakan keterampilan memahami yang paling sederhana atau paling dasar karena hanya memerlukan sedikit kegiatan berpikir. Keterampilan ini merupakan keterampilan menemukan makna kata dan kalimat dalam konteks secara langsung atau sesuai dengan yang tertulis.” (Santoso et al., 2024, hlm. 1.3)

“Membaca interpretasi merupakan kegiatan membaca yang menuntut kemampuan memahami lebih dari yang tertera dalam bacaan. Pemahaman kategori ini melibatkan keterampilan berpikir lebih, yakni kemampuan mengidentifikasi gagasan dan makna yang tidak secara eksplisit dinyatakan dalam teks…” (Santoso et al., 2024, hlm. 1.3)

Dari pemaparan tersebut, aku masih belum menemukan batas operasional yang jelas antara pemahaman literal dan interpretasi. Apakah keduanya dimaksudkan sebagai kategori yang saling eksklusif, ataukah pemahaman literal merupakan bagian dari proses interpretasi juga?

Secara intuitif, ketika membaca, aku justru mengalami proses memahami teks sebagai sesuatu yang cenderung interpretatif. Jika aku hanya membaca teks tanpa menghubungkannya dengan pengetahuan atau pengalaman yang telah kumiliki, aku justru akan meragukan apakah proses tersebut bisa disebut sebagai pemahaman. Jika pemahaman literal dimaksudkan sebagai memahami teks “apa adanya”, maka sejauh mana proses tersebut masih bisa disebut sebagai pemahaman, mengingat pembaca tetap perlu memberikan makna terhadap simbol-simbol linguistik yang dibacanya?

Misalnya terdapat kalimat, “Aku ingin apel.” Ketika pembaca memahami kalimat tersebut, bukankah ia perlu menghubungkan simbol “aku”, “ingin”, dan “apel” dengan pengetahuan yang telah dimilikinya? Kata “apel”, misalnya, tidak akan serta-merta memiliki makna yang sama bagi seseorang yang belum pernah mengetahui bahwa objek tertentu disebut dengan kata tersebut. Bahkan bagi pembaca yang sudah mengetahui makna kata “apel”, konteks tetap bisa berperan dalam menentukan makna yang dimaksud.

Jika demikian, apakah proses menghubungkan simbol linguistik dengan pengetahuan yang telah dimiliki pembaca masih bisa dikategorikan sebagai pemahaman literal, ataukah proses tersebut sudah merupakan bentuk interpretasi?

Ketika Membaca Kreatif Ditempatkan di Puncak

Jika batas antara literal dan interpretasi saja masih menyisakan pertanyaan, ada bagian lain dari model ini yang kemudian membuatku semakin penasaran: mengapa membaca kreatif ditempatkan sebagai tingkat paling tinggi?

“Keterampilan membaca kreatif merupakan keterampilan membaca yang berada pada tingkat paling tinggi. Di samping memiliki kemampuan yang dimiliki oleh pembaca, yakni tingkat pemahaman literal, interpretasi, dan berpikir kritis; pembaca kategori ini juga mampu menerapkan gagasan-gagasan yang ada pada teks atau bacaan ke dalam situasi baru… serta mampu memperluas konsep-konsep yang terdapat dalam teks yang dibacanya.” (Santoso et al., 2024, hlm. 1.3)

Jika membaca kreatif, sebagaimana dijelaskan dalam kutipan tersebut, membutuhkan pemahaman terhadap informasi literal, interpretasi terhadap makna teks, serta evaluasi kritis terhadap gagasan di dalamnya, apakah hubungan keempat bentuk pemahaman tersebut memang harus dipahami sebagai hubungan yang hierarkis dan linear?

Atau, apakah keempatnya bisa dipahami sebagai kemampuan yang saling berinteraksi dan tidak selalu berlangsung secara berurutan? Pertanyaan ini muncul karena membaca kreatif tampaknya tidak hanya bisa dipandang sebagai hasil akhir dari pemahaman literal, interpretasi, dan berpikir kritis. Proses kreatif itu sendiri juga bisa menghasilkan hubungan atau gagasan baru yang kemudian membantu pembaca membangun interpretasi dan pemahaman terhadap teks sejak awal.

Pertanyaan tersebut kemudian membuatku tertarik pada konsep kreativitas di luar konteks pembagian keterampilan membaca dalam textbook. Kalau kreativitas memang melibatkan pembentukan hubungan baru antaride, mungkin ada baiknya melihat bagaimana kreativitas sendiri pernah dijelaskan dalam psikologi kognitif.

Sekitar tahun 1960, psikolog Sarnoff Mednick mengembangkan gagasan bahwa kreativitas berkaitan erat dengan kemampuan membentuk asosiasi antara unsur-unsur yang sebelumnya terpisah. Gagasan tersebut kemudian dijelaskan kembali oleh Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow.

“Gagasannya sederhana sekaligus kuat: kreativitas adalah ingatan asosiatif yang bekerja sangat baik.” (Kahneman, 2011)

Kahneman juga menjelaskan bahwa Mednick mengembangkan Remote Associates Test (RAT), yang dirancang untuk menguji kemampuan menemukan hubungan antara kata-kata atau konsep yang tampaknya tidak berhubungan secara langsung.

Jika gagasan Mednick tersebut digunakan sebagai titik awal, muncul pertanyaan lain: apakah kreativitas benar-benar merupakan kemampuan yang secara hierarkis “lebih tinggi” daripada pemahaman literal, interpretasi, dan berpikir kritis, ataukah kreativitas justru merupakan salah satu proses kognitif yang bisa ikut bekerja di sepanjang proses memahami dan mengolah informasi?

Secara intuitif, aku cenderung mengalami pemahaman sebagai proses yang bersifat asosiatif. Ketika membaca sesuatu, aku tidak hanya menerima informasi sebagaimana adanya, tetapi secara otomatis menghubungkannya dengan pengetahuan, pengalaman, konsep, dan hubungan antargagasan yang telah ada sebelumnya. Dalam pengertian ini, asosiasi tampaknya bukan hanya muncul ketika seseorang mencapai tahap “membaca kreatif”; asosiasi sudah bekerja sejak seseorang mulai membangun pemahaman terhadap suatu informasi.

Jika demikian, apa sebenarnya yang sedang diurutkan oleh hierarki “membaca kreatif tertinggi”? Apakah yang diurutkan adalah tingkat kesulitan tugas membaca, kedalaman pemahaman, kompleksitas proses kognitif, atau jenis hasil yang dihasilkan pembaca?

Pertanyaan tersebut menurutku lebih mendasar daripada sekadar menentukan apakah satu kategori berada di atas kategori lainnya. Karena, jika proses-proses tersebut bisa saling memengaruhi dan berlangsung secara simultan, representasi berbentuk hierarki mungkin hanya menggambarkan tingkat tuntutan suatu aktivitas membaca, bukan urutan tetap dari proses kognitif yang terjadi di dalam pikiran pembaca.

Sebenarnya, membongkar model pemahaman membaca dalam modul ini membuka terlalu banyak rabbit hole kognitif yang belum sepenuhnya selesai aku petakan. Ada begitu banyak celah konseptual yang menantang untuk didekonstruksi, khususnya dalam pemahamanku sendiri.

Namun, sepertinya tulisan ini sudah cukup panjang. Biarlah sisa pertanyaan yang masih menggantung ini mengendap dulu, menjadi bahan bakar untuk esai-esai berikutnya. Untuk sekarang, kepatuhan sarkastikku di forum diskusi kampus rasa-rasanya sudah cukup tuntas.

Bye.

Referensi:

  • Kahneman, D. (2011). Thinking, Fast and Slow. Gramedia Pustaka Utama. (Edisi terjemahan)
  • Santoso, A., Setiawati, L., & Hasanudin, C. (2024). Bahasa Indonesia. Universitas Terbuka.