Sore ini aku tiba-tiba kepikiran tentang ada individu yang otomatis percaya sebuah argumen kalau narasinya terdengar rumit dan canggih. Ada juga yang sebaliknya, memuja kesederhanaan dan menganggap bahwa yang paling simpel pasti yang paling benar. (keduanya bukan aku ya š¤„)
Kemudian aku bertanya-tanya: apa maksudnya sederhana? Apa itu kompleksitas? Apakah penjelasan yang lebih kompleks lebih benar?
Aku juga tidak tahu apakah ada indikator kompleksitas yang seluruh populasi manusia akan sepakati. Tapi secara intuitif, aku merasa sebuah jawaban atau penjelasan menjadi lebih kompleks ketika melibatkan banyak variabel sekaligus interaksi di antara variabel-variabelnya, sampai kita membutuhkan lebih banyak energi untuk memprosesnya.
Jika sederhana adalah kebalikan dari kompleks, maka model yang sederhana mungkin merupakan model yang membuang variabel yang dianggap tidak relevan untuk menjawab pertanyaan tertentu dan mungkin dapat dipahami secara intuitif oleh penanyanya.
Tapi aku masih belum mengerti. Jadi aku coba melakukan thought experiment.
Dua Model
Bayangkan ada dua model. Model A dan Model B mencoba menjawab pertanyaan yang sama.
Model A menjelaskan:
āKecenderungan X meningkat ketika variabel Y meningkat.ā
Sedangkan Model B menjelaskan:
āKecenderungan X muncul karena 24 faktor psikologis yang disebabkan oleh 50 faktor sosial, terdiri dari 30 faktor ekonomi dan politik, 20 faktor budaya yang dipengaruhi beberapa parameter ekologis seperti iklim yang memengaruhi temperatur, biodiversitas yang memengaruhi noise dari serangga dan burung di lingkungan, polusi udara, polusi suara, dan polusi visual dari kegiatan manusia di sekitarnya.ā
Model B terdengar jauh lebih keren. š
Menurutku, B jelas merupakan penjelasan yang lebih kompleks. Tapi kompleksitasnya belum memberi tahu kita apakah model salah atau benar.
Model B mempunyai semacam aesthetic of explanation terdengar ilmiah karena memiliki banyak variabel, banyak hubungan kausal, dan banyak detail. Dari sini aku bisa dengan mudah melakukan lompatan:
Tapi thought experiment ini justru memberikan masalah lain terhadap asumsiku: bahwa penjelasan yang kompleks mungkin lebih sulit dipahami secara intuitif.
Sebuah model bisa kompleks secara struktural tetapi ditulis dengan sangat elegan sehingga mudah dipahami. Sebaliknya, model yang sebenarnya sederhana bisa dijelaskan dengan bahasa isekai sampai pembaca merasa sedang membaca kitab mantra pemanggilan raja iblis.
Jadi, āsulit dipahamiā bukan indikator yang aman untuk menentukan kompleksitas model.
Dan iya, di sini aku sedang menilai penjelasanku sendiri di Model B elegan. š
Apakah Semua Variabel Itu Diperlukan?
Model B terlihat lebih kompleks.
Tapi sekarang pertanyaannya :
Apakah semua 24 faktor psikologis itu benar-benar diperlukan?
Bagaiamana kalau beberapa di antaranya tidak punya definisi yang konsisten?
Bagaimana kalau 17 di antaranya tidak memiliki efek yang dapat direplikasi?
Bagaimana kalau 5 faktor sebenarnya merupakan konsekuensi dari Y, bukan penyebab independen?
Bagaimana kalau sebagian variabel hanya membuat model terlihat lebih lengkap, tetapi tidak meningkatkan kemampuan model untuk menjelaskan atau memprediksi apa pun?
Sebaliknya, bagaimana kalau Model A yang sangat sederhana ternyata memprediksi data dengan akurasi lebih tinggi?
Dan bagaimana kalau Model A memang terlalu sederhana sehingga gagal ketika kondisi berubah, sementara Model B mampu memprediksi fenomena yang tidak dapat dijelaskan oleh Model A?
Di sini aku mulai sadar bahwa pertanyaan tentang kompleksitas ternyata tidak bisa dipisahkan begitu saja dari pertanyaan tentang fungsi sebuah model.
Sebuah model tidak harus memasukkan segala sesuatu yang mungkin memengaruhi fenomena karena dibuat untuk menjawab pertanyaan tertentu. Karena itu, variabel yang tidak diperlukan untuk pertanyaan tersebut mungkin memang lebih baik diabaikan.
Tetapi mengabaikan variabel juga bisa menjadi masalah jika variabel tersebut ternyata penting untuk menjelaskan fenomena atau membuat prediksi model gagal ketika konteks berubah.