The Great Illusion
Apa yang sering aku temukan di internet ketika orang-orang mendiskusikan lingkungan adalah pola pikir yang cenderung biner: pertumbuhan ekonomi dibenturkan dengan kelestarian alam, seolah-olah manusia harus memilih salah satunya.
Aku memilih untuk tidak ikut berdebat. Apakah itu karena aku sombong? Mungkin iya. Tapi ada alasan lain yang lebih mendasar: narasi yang membenturkan ekonomi dan ekosistem sebagai dua kubu yang setara terasa tidak valid secara konseptual.
Ketika mencoba mendekonstruksi kata, aku menemukan paradoks yang lucu.
Secara etimologis, ekonomi berakar dari oikos, yang berarti rumah, dan nomos, yang berkaitan dengan aturan atau pengelolaan. Di sisi lain, ekologi menggabungkan oikos dengan logos, yaitu ilmu atau kajian. Dari sini muncul ironi kecil: bagaimana mungkin manusia merasa mampu menyusun “aturan rumah” jika ia tidak memahami “ilmu tentang rumah” itu sendiri?
Tentu saja etimologi bukan bukti ilmiah. Ia hanya pintu masuk. Tapi pintu masuk ini menunjukkan sesuatu yang menarik: ekonomi sejak awal tidak pernah benar-benar berada di luar rumah ekologisnya. Manusia modern mungkin telah terjebak dalam ilusi bahwa ekonomi adalah sistem mandiri yang digerakkan oleh angka, hukum pasar, dan teknologi. Padahal semua itu hanyalah gelembung kecil di dalam ruang besar bernama biosfer.
Hukum Termodinamika dan Aliran Energi
Pangan, air bersih, tanah, dan iklim adalah fondasi material dari ekonomi. Bayangkan jika manusia berada dalam kondisi finansial yang relatif baik menurut standar saat ini, tetapi sistem ekologinya tidak lagi stabil. Air bersih sulit didapatkan. Tanah dan air terkontaminasi oleh substansi yang tidak aman bagi banyak organisme. Iklim berubah semakin ekstrem.
Pada titik itu, uang kehilangan sebagian besar kesaktiannya.
Uang bisa membeli barang selama barang itu ada. Uang bisa mengatur distribusi selama sesuatu masih bisa didistribusikan. Tapi uang tidak memiliki kemampuan fotosintesis untuk memproduksi kalori. Pabrik secanggih apa pun tidak bisa menggantikan fungsi siklus hidrologi alami dalam skala yang menopang peradaban.
Keadaan ini menunjukkan bahwa ekonomi pada dasarnya adalah aturan permainan. Jika tempat permainan itu sudah rusak, maka aturan tersebut tidak akan berjalan optimal.
Semua komoditas ekonomi, mulai dari segelas kopi di kafe tempat aku menulis ini, lembaran kertas saham, hingga laptop 15 inci yang sedang kupakai sekarang, pada dasarnya adalah bentuk materi dan energi alam yang telah diubah wujudnya oleh manusia. Ekonomi bukan sihir yang menciptakan realitas dari ruang hampa. Ia hanya mengatur, memindahkan, memproses, memberi harga, lalu menyebutnya nilai.
Begitu pula dengan tanah yang subur. Bukan sekadar “properti lahan” atau komoditas real estat, melainkan hasil kerja panjang organisme, mikroorganisme, dekomposer, mineral, air, udara, dan waktu. Ketika proses biologis ini terganggu dalam skala besar, rantai pasok pangan tidak hanya mengalami gangguan teknis tapi juga mengalami gangguan pada fondasi materialnya.
Dengan kata lain, krisis ekologis bukan sekadar masalah lingkungan. krisis ekologis adalah masalah ekonomi yang belum dikenali oleh bahasa ekonomi itu sendiri.
Menghabiskan Modal, Bukan Mengambil Bunga
Di dunia finansial, jika seseorang memiliki modal di bank, kebijakan yang waras adalah hidup dari bunga yang dihasilkan, bukan menguras habis modal utamanya. Bumi pun memiliki sesuatu yang bisa disebut sebagai modal alami: hutan, tanah, air, keanekaragaman hayati, iklim yang relatif stabil, dan seluruh proses ekologis yang menopang kehidupan.
Siklus ekologis yang stabil adalah bentuk “bunga” alami yang bisa dinikmati manusia. Namaun, sistem ekonomi modern sering bekerja dengan cara sebaliknya: merusak hutan, mencemari tanah, menekan keanekaragaman hayati, dan mengganggu sistem iklim demi mengejar keuntungan jangka pendek.
Ini bukan pertumbuhan yang utuh. Ini lebih mirip kebangkrutan sistemis yang sedang ditunda.
Kecenderungan absurd ini juga terlihat pada cara manusia modern membicarakan data. Banyak korporasi hari ini menyebut data sebagai bahan bakar utama pertumbuhan. Tapi ada pusat data yang lebih tua, lebih besar, dan lebih fundamental daripada semua server manusia: alam itu sendiri.
Hutan menyimpan informasi dalam jaringan akar, tanah, jamur, serangga, burung, mamalia, mikroba, kelembapan, dan pola iklim lokal. Laut menyimpan informasi dalam arus, plankton, salinitas, suhu, dan relasi trofik yang rumit. Tanah menyimpan arsip biologis yang tidak bisa direplikasi hanya dengan spreadsheet.
Ketika pusat data biologis ini rusak, kerugiannya tidak selalu langsung muncul dalam laporan kuartal. ia perlahan muncul di tempat yang lebih sederhana dan lebih brutal: piring makan, tagihan air, harga pangan, kesehatan tubuh, dan kemampuan masyarakat untuk bertahan.
Ekonomi Tidak Berdiri di Luar Biosfer
Kerangka seperti natural capital dan planetary boundaries sebenarnya sudah menunjukkan bahwa ekonomi tidak bisa dipisahkan dari kondisi ekologis yang menopangnya. Alam bukan sekadar latar belakang bagi aktivitas manusia. Ia adalah sistem pendukung kehidupan yang membuat aktivitas manusia mungkin dilakukan sejak awal.
Maka, pertanyaan utamanya bukan apakah manusia harus memilih antara ekonomi atau ekosistem.
Pertanyaan yang lebih tepat adalah: ekonomi macam apa yang masih bisa disebut rasional jika ia merusak prasyarat ekologis dari keberadaannya sendiri?
Sains tidak bernegosiasi dengan retorika politik, diplomasi iklim, atau nilai tukar mata uang. Hukum biologi dan fisika tetap bekerja, bahkan ketika manusia sedang sibuk memberi nama yang elegan pada tindakannya sendiri.
Jika biosfer kehilangan stabilitasnya, kalkulus ekonomi manusia tidak akan menjadi semakin canggih, hanya akan menjadi semakin tidak relevan.
Saat hari distopia ekosistem benar-benar terjadi dan aku masih bernapas, mungkin dalam waktu singkat aku akan ditemukan mati membusuk dengan layar laptop yang masih menyala. Layar itu akan menampilkan potongan percakapan ini: tentang bagaimana manusia gemar menganggap kehidupan sebagai sesuatu yang sakral, tetapi di saat yang sama, terus mengambil langkah-langkah destruktif, dengan percaya diri memberikan nama elegan pada tindakannya itu.
Pada akhirnya, ekonomi bukan lawan ekosistem. Ekonomi adalah turunannya. Bukan rumah yang berdiri sendiri, tapi tata kelola kecil di dalam rumah yang lebih besar. Dan tidak ada tata kelola rumah yang bisa disebut berhasil jika rumahnya sendiri sedang dibakar dari fondasinya.
Bersambung ke Bagian 2: Ketika Kerusakan Menjadi Pertumbuhan
Rujukan
World Bank – Natural Capital
World Bank mendefinisikan natural capital sebagai stok sumber daya alam seperti hutan, air, tanah, mineral, dan ekosistem yang menyediakan jasa penting bagi ekonomi dan kesejahteraan manusia. Rujukan ini menopang argumen bahwa ekonomi tidak berdiri terpisah dari fondasi ekologisnya.
https://www.worldbank.org/ext/en/topic/environment/natural-capitalStockholm Resilience Centre – Planetary Boundaries
Kerangka planetary boundaries menjelaskan batas-batas ekologis yang menjaga stabilitas sistem Bumi. Jika batas-batas ini dilampaui, risiko gangguan terhadap sistem pendukung kehidupan manusia meningkat. Rujukan ini relevan untuk bagian tentang biosfer sebagai ruang operasi ekonomi.
https://www.stockholmresilience.org/research/planetary-boundaries.htmlIPBES – Global Assessment Report on Biodiversity and Ecosystem Services (2019)
Laporan IPBES membahas penurunan biodiversitas dan jasa ekosistem secara global, serta bagaimana kerusakan alam berdampak pada kontribusi alam terhadap manusia. Rujukan ini memperkuat gagasan bahwa hilangnya ekosistem bukan sekadar isu moral, tetapi juga isu material bagi kehidupan manusia.
https://www.ipbes.net/global-assessmentThe Dasgupta Review – The Economics of Biodiversity (2021)
The Dasgupta Review menekankan bahwa ekonomi manusia tertanam di dalam alam, bukan berada di luar alam. Laporan ini juga mengkritik cara ekonomi konvensional sering gagal memasukkan nilai biodiversitas dan modal alami ke dalam perhitungan kesejahteraan.
https://www.gov.uk/government/publications/final-report-the-economics-of-biodiversity-the-dasgupta-reviewWorld Bank – The Changing Wealth of Nations
Laporan ini membahas bagaimana kekayaan suatu negara tidak hanya terdiri dari modal buatan manusia dan modal manusia, tetapi juga modal alami. Rujukan ini memperkuat analogi “menghabiskan modal, bukan mengambil bunga”.
https://openknowledge.worldbank.org/entities/publication/2ad40228-16c5-4484-969a-ac604539e067