Di sebuah pemakaman di Wina, pada nisan Ludwig Boltzmann, terukir sebuah persamaan:
\begin{equation} S = k_{\mathrm{B}} ,, \ln ,, \Omega \end{equation}
Persamaan ini menghubungkan entropi ($S$) dengan $\Omega$, jumlah kemungkinan keadaan yang dapat ditempati oleh suatu sistem, dengan $k_{\mathrm{B}}$ sebagai konstanta Boltzmann. Semakin banyak kemungkinan yang tersedia, semakin tinggi entropinya.
Dalam pengertian fisika, entropi bukanlah penilaian moral tentang kekacauan seperti yang sering di narasikan tapi ukuran banyaknya konfigurasi yang mungkin.
Jika identitas kita dipandang sebagai sebuah sistem, maka $\Omega$ dapat dibayangkan sebagai versi-versi diri yang belum terjadi. Label bekerja dengan cara memperkecil $\Omega$, mereduksi banyak kemungkinan menjadi bentuk yang nyaman bagi otak primata kita.
Saat kita menolak label, kita sebenarnya sedang membuka kembali ruang kemungkinan. Identitas bergerak menuju entropi yang lebih tinggi, untuk memberi diri kesempatan mengeksplorasi berbagai konfigurasi.
Seperti sistem di alam, identitas tidak selalu menemukan bentuknya dalam satu keadaan tetap. Ia melebar ke berbagai kemungkinan terlebih dahulu, sebelum perlahan mengarah pada struktur yang tertentu.
Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun ditempeli label sebagai “anak pesantren”, dengan keseharian yang berputar di literatur Islam berbahasa Arab dan ayat suci. Dalam kerangka itu, identitasnya tampak berada pada $\Omega$ yang sempit, membuatnya tampak terkunci dalam satu konfigurasi. Setidaknya, begitulah yang terlihat dari luar.
Tapi orang itu rebel, dia menolak label itu dan kemunkinan jadi melebar. Ia membaca literatur yang lebih luas, menyusun interpretasi filosofis dari puisi dan novel, dan menemukan ketertarikan pada musik. Kemudian ia belajar instrumen secara otodidak, menghubungkan fakta-fakta dalam biologi dengan konsep-konsep dalam ilmu pengetahuan lainnya, hingga tenggelam dalam barisan kode di bahasa pemrograman. Satu per satu, kemungkinan baru ditambahkan, memperluas konfigurasi yang dapat ditempati oleh identitasnya.
Dari kacamata orang luar yang sering mereduksi identitas jadi label, perubahan ini mungkin terlihat tidak fokus, bahkan seperti keluar jalur. tapi seseorang itu tidak sedang menghancurkan identitasnya. Ia hanya sedang memperbesar $\Omega$, membiarkan dirinya menjelajah lebih banyak kemungkinan sebelum menetap pada bentuk tertentu. identitas awal itu munkin tidak pernah ada karena “anak pesantren” itu label yang hanya tampak stabil karena ruang kemungkinannya belum terbuka.
Bagi otak primata kita kemunkinan yang terlalu luas tidak selalu terasa nyaman. Di tengah banyaknya versi diri yang mungkin, kita sering terdorong untuk menyederhanakan diri sendiri. Label menjadi semacam titik istirahat, sesuatu yang bisa dipegang ketika kompleksitas mulai terasa melelahkan. Ia bekerja seperti noise yang mengaburkan keragaman kemungkinan menjadi satu pola yang mudah dikenali. Dunia sosial pun bekerja dengan cara yang serupa: ia lebih mudah memahami sesuatu yang tetap, konsisten, dan dapat diprediksi.
Ouh kalau ada pertanyaannya “siapa seseorang yang di jadikan contoh itu?”, aku kasih tau, dia adalah yang menulis artikel ini di laptop 15 inci.
Aku pernah menyatakan bahwa otak dan dunia saling berimplikasi. Cara kita memandang diri tidak pernah sepenuhnya lahir dari dalam. Cara pandang itu terbentuk dari banyak informasi yang diterima dari lingkungan. Jika dunia di sekitar kita memiliki $\Omega$ yang tinggi, dengan banyak kemungkinan yang terus bergeser, apa yang terjadi ketika pandangan kita terhadap diri justru dibekukan pada kemungkinan yang sempit?
Ketidaksinkronan inilah yang perlahan memicu krisis. Label memang terasa nyaman karena ia mereduksi kemungkinan dan menciptakan keteraturan lokal. Namun pada saat yang sama, ia membuat identitas menjadi kaku di tengah lingkungan yang terus berubah. Dunia bergerak dengan entropi tinggi, sementara kita mencoba bertahan dalam konfigurasi yang tetap.
Dalam kondisi seperti itu, tekanan jadi tak terhindarkan. Sepeti organisme yang harus terus menyesuaikan diri dengan lingkungan ekologisnya, identitas juga dituntut untuk beradaptasi. Namun adaptasi tidak pernah berjalan cepat atau sederhana. Adaptasi membutuhkan fase tidak stabil, di mana bentuk lama mulai longgar sebelum konfigurasi baru benar-benar terbentuk.
Karena itu, wajar jika dalam proses memperluas kemungkinan ini, sesekali kita merasa seperti seekor beruang kutub yang dipaksa beradaptasi di tengah hutan hujan. Lingkungan terasa asing, ritme tidak lagi cocok, dan setiap langkah dipenuhi ketidakpastian. Dibutuhkan waktu panjang bagi organisme dalam kondisi ekstrem seperti itu untuk menemukan cara hidup yang baru.
Begitu pula dengan identitas. Ia memerlukan waktu untuk berproses, membiarkan dirinya tidak stabil, sebelum akhirnya menemukan ritme yang lebih selaras dengan dunia yang terus berubah.