Ada satu masa di mana aku merasa seperti orang aneh di tengah orang normal (sekarang masih aneh sih). Sebagai mahasiswa komunikasi saat itu,hal yang normal dilakukan adalah melatih teknik persuasi atau tampil percaya diri di depan publik. Namun, kenyataannya aku justru menghindarinya. Alih-alih bergabung dalam diskusi yang membahas metode praktis, aku lebih sering duduk menyendiri di depan fakultas psikologi, membayangkan jika aku adalah mahasiswa psikologi aku pasti mengejek penis envy yang di ajukan sigmund freud dengan percaya diri.
aku juga sering bolos dan diam di perpustakaan, mengenakan earphone yang memutar komposisi klasik favoritku saat itu, mataku menatap barisan kalimat dari buku tebal yang membahas teori psikologi klasik dari psikoanalis Freud sampai Karen Horney, tatapan yang munkin terlalu romantis untuk disebut hanya membaca. di perpustakaan itu juga aku mulai bertanya-tanya: jika label “mahasiswa komunikasi” ini terasa begitu tidak pas di kulitku, lalu sebenarnya siapa “aku” ini?
Pencarian jawaban ini kemudian membawaku keluar dari sekadar narasi sosial menuju pemahaman yang lebih biologis.
Titik terangnya muncul bukan dari diskusi filsafat atau ilmu sosial, tapi dari sebuah video kuliah MIT, yang aku klik karena penasaran, berjudul Introduction to the Human Brain.
Di sela sela instruktur membedah keajaiban di balik batok kepala manusia, ada salah satu mahasiswa yang bertanya, kalau tidak salah ingat pertanyaannya berkaitan dengan identitas, aku tidak ingat detail bagaimana mahasiswa itu bertanya dan Prof. Kanwisher (si instruktur) menjawabnya tapi premis itu sudah ada di pikiranku sejak menonton kuliah itu, bahwa satu satunya tempat identitas adalah otak kita.
Lalu aku mulai menyusun hipotesisku sendiri: bahwa identitas sangat berkaitan dengan proses biologis dan kognitif yang terus bergerak. Ia lahir dari interaksi kompleks antara jaringan neuron, sinapsis, dan pengalaman sosial yang menumpuk sepanjang hidup. Otak berperan sebagai pusat integrasi, sedangkan lingkungan sosial menyediakan stimulus yang membentuk arah perkembangannya.
otak dan dunia saling berimplikasi. Informasi sosial diserap, diseleksi, lalu diolah menjadi narasi diri atau mungkin seringkali narasi itu tidak di sadari, dan mengarahkan kecenderungan kita ke hal hal yang barkaitan dengan asumsi identitas kita.
misalnya seseorang yang setiap hari terpapar informasi bahwa jazz standar itu musik yang keren, dia bisa menginternalisasi dan tanpa sadar merasa bagian dari komunitas pengemar jazz standar, lalu dia membeli instrument secara impulsif, belajar dasar teori musik, dan mencoba memainkan jazz standar di instrumentnya.
Tapi karena otak kita sebenarnya sangat fleksibel, Identitas bukan sesuatu yang statis, melainkan sistem yang berkembang seperti ilmu pengetahuan: model baru menggantikan sebagian struktur lama tanpa meniadakan fondasinya. Seperti teori ilmiah yang tumbuh dari kesalahan dan pembaruan, identitas manusia juga menyimpan versi lamanya sebagai bagian dari kontinuitas eksistensial.
Jika seperti itu, menjadi diri sendiri bukan berarti membekukan makna “aku,” melainkan terus menegosiasikannya seiring perubahan informasi, pengalaman, dan lingkungan. Identitas adalah organisme yang hidup di dalam otak, selalu berubah karena neuroplastisitas, tetapi tetap mempertahankan benang merah yang menghubungkan setiap informasi untuk membangun narasi diri yang konsisten meskipun tidak ada keharusan untuk konsisten.
Namun bagaimana dengan pandangan bahwa identitas adalah label yang dilekatkan pihak luar kepada diri kita? menurutku label itu bisa menjadi bagian dari identitas jika diinternalisasi. Atau sebaliknya, ia hanya memperkuat identitas yang sudah kita asumsikan tentang diri sendiri.
Label-label itu berasal dari persepsi orang lain terhadap persona yang kita tampilkan. Mereka membangun imajinasi tentang diri kita, lalu menamai imajinasi itu sebagai identitas. Pertanyaannya kemudian bergeser: apakah orang lain benar-benar melihat diri kita, atau hanya melihat model mental yang mereka bentuk sendiri?
Sepertinya ini akan terlalu panjang jika diteruskan di sini. Mungkin aku akan menuliskannya dalam artikel berikutnya: tentang persepsi orang lain, dan apakah seseorang benar-benar bisa memahami diri kita.