Aku pernah menulis di caption bahwa “lebih sering bingung daripada tahu.” Dan sekarang, kebetulan aku bingung ingin menulis apa untuk konten pertama.

Teman imajinerku memberi saran. (dia sebenarnya diriku sendiri)

“Nulis tentang kepastian saja.”

Baiklah. Kita mungkin bahas tentang kepastian tanpa kepastian.

Apa yang pasti di alam semesta?

Aku mungkin akan menjawab pertanyaan itu dengan senyum tipis,

“Mungkin yang pasti di alam semesta adalah persepsi kita terhadap materi yang ada di ruang dan waktu.”

Jawaban yang pretensius, kan? seperti orang yang terlalu banyak menyendiri sambil membayangkan dirinya adalah seorang filsuf.

Tapi sebelum mencoba menjelaskannya, ada satu hal yang mengganggu.

Siapa yang mengajukan pertanyaan itu? Oh iya. Diriku sendiri.

Jika pertanyaan tentang kepastian saja lahir dari pikiranku sendiri, mungkin kepastian juga tidak sepenuhnya berada di luar.

Bisa jadi ia hanya muncul dari caraku memersepsikan dunia.

Kita sering merasa bahwa daun pasti berwarna hijau. Tapi, apakah benar-benar pasti?

…Jawabannya belum tentu.

Kalau kamu mencari di YouTube dengan keyword “bagaimana warna diproses oleh otak?”, kamu akan menemukan konten edukasi yang menjelaskan tentang fotoreseptor di retina. Intinya sel-sel ini mengubah panjang gelombang cahaya menjadi sinyal listrik, lalu otak menginterpretasikannya sebagai pengalaman mental yang kita sebut warna.

Kita melabeli panjang gelombang cahaya 540 nm sebagai warna hijau, cuma karena kita sepakat begitu.

Bagian dari fotoreseptor, yaitu sel kerucut seperti M cone, sensitif terhadap rentang panjang gelombang 540-570 nm. Otak kemudian membandingkan pola aktivasi, Jika sinyal di tangkap S cone -> biru, M cone -> hijau, dan L cone -> merah

Cahaya 540 nm masuk ke mata, M cone aktif lebih kuat. Otak menyimpulkan: ini hijau.

Jadi, warna sebagai sifat cahaya sebenarnya tidak pasti. Ia adalah hasil interpretasi neural pada Homo sapiens.

Apakah daun berwarna hijau? Jawabannya tergantung siapa yang menjadi pengamat.

Jika hijau hanya label mental, apa yang tersisa di luar kepala kita?

Mungkin alam semesta tidak pernah benar-benar melukis materi dengan warna. Yang ada hanyalah panjang gelombang elektromagnetik.

Apakah Angka itu akan tetap ada meskipun kita tidak melihatnya?

Tapi apapun kepastian itu, label yang dikarang sistem saraf kita penting, agar kita tidak menabrak pohon saat berjalan.

Kalau begitu, ketika aku bertanya apa yang pasti di alam semesta, apakah aku benar-benar mencari kepastian… atau hanya mencari label yang terasa pasti?