Aku pernah beberapa kali mencoba tes MBTI, dan hasilnya berubah-ubah. Pernah INFP, INFJ, INTJ, dan terakhir INTP.

Mungkin karena terlalu sering mengulang tes di situs seperti 16Personalities, aku mulai memahami polanya. Tanpa sadar, aku tahu bagaimana mengarahkan hasilnya. Kalau aku ingin menjadi INTP, aku tinggal memilih jawaban yang mengarah ke sana.

Sedikit seperti… bermain dengan sistem.

Kalau bisa seperti itu, sebenarnya MBTI aku ini apa?

Pertanyaannya terdengar sederhana, tapi setiap kali aku mencoba menjawabnya, jawabannya bercabang.

Ketika aku merencanakan hasil yang kuinginkan, itu terasa seperti INTJ si “mastermind”.
Ketika aku menikmati eksperimen dengan mengubah variabel dan melihat hasilnya, itu terdengar seperti INTP.
Ketika aku tertarik pada makna simbolik dari hasil itu, muncul pertanyaan “ini aku atau bukan?”, itu mendekati INFJ, atau bahkan INFP.

Semua terasa masuk akal.
Dan justru karena itu, semuanya bisa diragukan

Yang menarik, dari semua kemungkinan itu, ada satu yang selalu aku hindari: tipe dengan awalan “E”.

Seolah-olah ada dorongan untuk menjaga konsistensi bahwa aku adalah seorang introvert.

Kenapa?

Mungkin karena, secara implisit, aku menganggap identitas harus bekerja seperti logika formal. Ada semacam ketakutan bawah sadar bahwa jika aku tidak konsisten, aku akan kehilangan “jangkar” diriku sendiri.

Aku merasa “aku” haruslah sebuah unit yang patuh pada aturan yang baku, seperti cara matematika mendefinisikan sebuah variabel.

Dan dari situ, pikiranku mulai bergerak ke arah yang lebih kaku tapi juga sedikit horor.

Ayo kita bahas horrornya.

Dalam logika formal, identitas biasanya didefinisikan sebagai relasi biner yang memenuhi tiga aksioma.

Pertama, refleksivitas:

∀x (x = x)

Artinya, setiap objek identik dengan dirinya sendiri.

Masalahnya… setiap kali aku bercermin pagi-pagi sambil masih ngantuk, orang di balik cermin itu terasa lebih seperti orang asing daripada diriku setelah bener bener “bangun”

Lalu aksioma simetris:

∀x ∀y (x = y → y = x)

Jika aku identik dengan bayangan itu, maka bayangan itu juga harus identik denganku. Tidak boleh ada selisih arah.

Tapi pengalaman sehari-hari tidak selalu terasa seimbang seperti itu.

Yang terakhir, transitivitas:

∀x ∀y ∀z ((x = y ∧ y = z) → x = z)

Jika x sama dengan y dan y sama dengan z, maka x sama dengan z.

Kalau aku adalah cermin, dan cermin adalah kamu, maka kita adalah satu.

Kedengarannya romantis.
Tapi secara logika… ini mulai terasa horor.

Ada juga prinsip substitusi identitas (indiscernibility of identicals):

∀x ∀y (x = y → (φ(x) ↔ φ(y)))

Jika aku (x) benar-benar identik dengan kamu (y), maka tidak boleh ada satu pun sifat yang membedakan keduanya.

Tidak ada ruang untuk perbedaan preferensi sekecil apa pun. Bahkan memilih makan siang sampai tubuh kita seharusnya tidak boleh berbeda.

horor, kan?

Di textbook, semua ini terasa wajar.

Tapi di kepala seorang mahasiswa biologi?

Itu hampir mustahil.

Satu mutasi nukleotida saja sudah cukup untuk membuat $x$ tidak lagi sama dengan $y$. Jika satu perubahan kecil di tingkat molekuler bisa membedakan dua organisme, mengapa satu perubahan suasana hati tidak cukup untuk membedakan beberapa versi diriku?

Secara semantik, identitas bahkan lebih ketat lagi.

Dalam sebuah model, relasi identitas hanya berisi pasangan elemen yang benar-benar sama dengan dirinya sendiri:

{(d, d) | d ∈ D}

Tidak ada pasangan silang.
Tidak ada toleransi terhadap perbedaan sekecil apa pun.

Tidak ada “aku” dan “kamu” jika kita sama sama cermin ya kita adalah satu.

Tapi mungkin, identitas memang tidak pernah sesederhana definisinya di logika formal.

Dunia logika itu seperti ruangan dengan dinding lurus. Semua hal punya batas yang jelas, tegas, dan tidak ambigu.

Sedangkan realitas… tidak selalu bekerja seperti itu.

Aku menulis ini bukan untuk menunjukkan bahwa aku memahami logika.

Justru sebaliknya.

Ini semacam koreksi kecil terhadap cara berpikirku sendiri. Di beberapa tulisan sebelumnya, aku terlalu asyik membahas identitas dari sudut pandang asosiatif, tanpa benar-benar menyentuh fondasinya.

Aku lupa menanyakan: di “ruang” seperti apa identitas itu berdiri?

Hipotesisku masih sama.

Identitas lebih dekat dengan proses biologis dan kognitif yang terus bergerak, bukan label statis yang harus selalu konsisten.

Jadi mungkin pertanyaannya bukan lagi:

Sebenarnya MBTI-ku ini apa?

Melainkan:

Mengapa aku merasa harus memastikan bahwa aku hanya boleh menjadi satu tipe saja?

Pada akhirnya, yang berubah-ubah mungkin bukan tipenya, melainkan konfigurasi keadaanku pada saat itu.

Dan mungkin itu bukan inkonsistensi.

Mungkin itu justru dinamika.

Sebuah tanda sederhana bahwa aku dan kamu bukan bukan kumpulan label statis tapi kumpulan sel yang terus membelah diri.