Di artikel sebelumnya, aku menyatakan bahwa identitas adalah proses yang terus bergerak, yang menggembangkan asumsi kita terhadap diri sendiri. Namun, pertanyaan itu belum selesai: bagaimana jika identitas justru merupakan label yang dilekatkan oleh pihak luar?
Untuk memahaminya, kita bisa melihat bagaimana identitas umumnya diverifikasi. Dalam kehidupan sehari-hari, identitas sering kali direduksi menjadi data seperti nama, tempat lahir, status,atau pekerjaan. Seolah-olah dengan data itu seseorang sudah bisa “dipahami.”
Hal yang mirip terjadi dalam biologi. Untuk mengenali suatu organisme, dibutuhkan berbagai indikator dari morfologi, anatomi, fisiologi, bahkan data molekuler. Proses ini kompleks dan kerennya taksonomi sering dianggap sebagai salah satu bidang paling “abu-abu” dalam biologi.
Tapi apakah organisme yang sedang diidentifikasi itu sendiri peduli dengan identitas kompleksnya?
sepertinya tidak.
Kecuali, tentu saja, jika organisme itu adalah yang sedang mengidentifikasi dirinya sendiri, seperti Homo sapiens. 👀
Di sinilah letak perbedaannya. Dalam sains, identitas adalah hasil pengamatan. menurutku identitas juga merupakan pengalaman mental. Apakah kupu kupu atau organisme lain punya asumsi implisit tentang dirinya? munkin iya atau munkin tidak? kita tidak bisa tau pasti seperti apa rasanya jadi kupu kupu.
pemikiran ini mengingatkanku pada sebuah bait dalam buku Sapardi Djoko Damono dan Rintik Sedu:
“siapa gerangan yang sudi mendengarkan kita bernyanyi, kecuali nyanyian itu sendiri”
- Sapardi Djoko Damono & Rintik Sedu, Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang
Tentu, bait ini dapat dimaknai dengan banyak cara. Namun bagiku, “nyanyian” itu mewakili pengalaman mental: emosi, memori, makna dan asumsi-asumsi yang hanya bisa dipahami sepenuhnya oleh individu itu sendiri.
Bernyanyi adalah upaya mengekspresikan pengalaman itu ke luar diri dan mendengarkan adalah upaya orang lain memahami nyanyian itu.
berdasarkan interpretasiku tidak ada yang bisa benar benar memahami pengalaman mental seseorang kecuali pengalaman itu sendiri.
Karena ketika seseorang menerima ekspresi kita, yang ia pahami bukan pengalaman kita yang sebenarnya, melainkan interpretasinya sendiri terhadap pengalaman itu, sebuah model mental yang dibangunnya berdasarkan persepsinya sendiri.
Jika begitu, maka pemahaman antarindividu bukanlah perpindahan makna, melainkan konstruksi makna.
Tapi masih ada ruang untuk pertanyaan: Bisakah seseorang sungguh-sungguh memahami kita, atau seperti dugaanku mereka hanya memahami versi diri kita yang ada imajinasi mereka sendiri?
Ketidakmampuan untuk benar-benar “mendengar” nyanyian orang lain sering kali berujung pada satu hal: pelabelan. Label adalah cara termudah untuk mengakhiri kompleksitas interpretasi.
Aku teringat bagian lain dari buku yang sama, tentang bagaimana sebuah tanda ditakdirkan menjadi interpretasi atas dirinya sendiri. Dan saat ia lelah menafsirkan, ia tak lagi peduli pada tafsir atas dirinya.
Bukankah kita pun sama? Tanda yang tak pernah selesai menafsirkan dirinya sendiri?
jika kita sendiri adalah tanda yang tak pernah selesai menafsirkan dirinya, bagaimana mungkin kita menuntut orang lain memiliki tafsir yang “benar” atas kita?
Mungkin identitas memang tak pernah dimaksudkan untuk dipahami sepenuhnya. Ia seperti musik sunyi, dengan frekuensi yang paling sempurna beresonansi hanya di telinga kita sendiri. Orang lain mungkin hanya menangkapnya sebagai bunyi yang terdistorsi, yang kemudian mereka beri nama dengan label-label tertentu.
Label-label itu tetap menjadi “noise” bagi pengalaman subjektif kita. Namun, seperti gangguan sinyal pada umumnya, sebagian noise itu mungkin justru kita serap, kita tafsir ulang, lalu perlahan menjadi bagian dari komposisi yang kita dengar sebagai “aku.”
Jadi “siapa aku?” tidak ada jawaban yang pasti?