Bagian I berhenti pada kegagalan model linear.
Gambarannya, dua observer dengan arah temporal berlawanan tampak masih bisa bertemu di satu titik. A bergerak dari masa lalu ke masa depan, sementara B bergerak dari masa depan ke masa lalu. Jika “bertemu” hanya berarti berada pada koordinat eksternal yang sama, maka masalahnya terlihat sederhana.
Tapi kesederhanaan itu menipu.
Bayangkan sebuah cangkir kopi jatuh dari meja. Bagi A, urutannya jelas: cangkir utuh, jatuh, pecah. Entropi meningkat. Tetapi bagi B, urutan itu terbaca terbalik: pecahan di lantai berkumpul, naik, lalu menjadi cangkir utuh kembali.
Di titik ini, pertanyaanku bukan lagi “apakah mereka bisa bertemu?”, tetapi “jika mereka berinteraksi, hukum fisik siapa yang berlaku?”
Inilah bagian yang membuat model linear terasa rapuh. Pertemuan tidak hanya membutuhkan lokasi yang sama, tetapi juga kesepakatan kausal. Dua makhluk bisa berdiri di ruangan yang sama, tetapi jika satu hidup dalam arah entropi yang meningkat dan yang lain hidup dalam arah entropi yang berlawanan, maka mereka tidak benar-benar berbagi dunia fisik yang sama.
Mereka seperti dua kalimat yang ditulis di kertas yang sama, tetapi satu dibaca dari kiri ke kanan dan satu lagi dari kanan ke kiri.
Masalahnya bukan sekadar arah jam. Masalahnya adalah arah keteraturan, arah memori, arah sebab-akibat. Bagi A, sebab mendahului akibat: cangkir jatuh, lalu pecah. Bagi B, urutan itu tampak sebaliknya: pecahan berkumpul, lalu cangkir kembali utuh.
Jika keduanya menyentuh cangkir yang sama, peristiwa mana yang harus dianggap “normal”?
Dari Panah ke Bentuk
Di sinilah aku mulai curiga bahwa masalahnya bukan hanya pada panah waktu, tetapi pada bentuk waktu itu sendiri.
Selama ini, waktu yang kita rasakan sehari-hari tampak linear:
Model ini cocok dengan pengalaman manusia. Kita mengingat masa lalu, bukan masa depan. Kita melihat telur pecah, bukan pecahan telur berkumpul kembali menjadi telur. Kita melihat kopi mendingin, bukan udara ruangan mengembalikan panasnya ke dalam kopi.
Dalam bahasa termodinamika, entropi cenderung meningkat.
Tetapi dalam imajinasiku, muncul kemungkinan lain: bagaimana jika waktu tidak hanya berupa garis, tetapi sesuatu yang melengkung, menutup, atau kembali pada dirinya sendiri?
Mungkin waktu tidak seperti anak panah yang ditembakkan sekali dari awal menuju akhir. Mungkin ia lebih mirip angka 0, lingkaran, atau siklus. Dalam bentuk seperti itu, apa yang kita sebut “awal” dan “akhir” tidak sepenuhnya terpisah. Keduanya bisa menjadi dua sisi dari struktur yang sama.
Tentu saja, ini belum menyelesaikan masalah cangkir kopi tadi. Lingkaran waktu tidak otomatis membuat pecahan cangkir dan cangkir utuh bisa hidup damai dalam satu ruangan. Hukum termodinamika lokal tetap keras kepala. Di skala sehari-hari, entropi tidak tiba-tiba bersikap romantis lalu berjalan mundur hanya karena aku menggambar waktu sebagai lingkaran.
Namun, bentuk siklik memberi cara lain untuk membayangkan pertanyaannya. Jika garis lurus membuat dua arah waktu terlihat seperti tabrakan, siklus mungkin membuatnya terlihat seperti fase yang berbeda dalam satu pola besar.
Jalur Tertutup dan Satpam Kosmik
Dalam relativitas umum, matematika bahkan mengizinkan kemungkinan tertentu yang disebut closed timelike curves, atau CTC: lintasan dalam ruang-waktu yang secara teori dapat kembali ke titik masa lalu.
Tetapi kemungkinan seperti ini segera membawa masalah paradoks. Jika seseorang bisa kembali ke masa lalu, apa yang mencegahnya mengubah kondisi yang membuat keberadaannya sendiri mungkin?
Contoh klasiknya sering disebut paradoks kakek: seseorang kembali ke masa lalu lalu mencegah kakeknya bertemu neneknya. Jika itu berhasil, orang tersebut tidak akan lahir. Tetapi jika ia tidak lahir, siapa yang kembali ke masa lalu?
Di sinilah muncul gagasan seperti Chronology Protection Conjecture dari Stephen Hawking: dugaan bahwa hukum fisika mungkin mencegah terbentuknya situasi yang memungkinkan paradoks waktu terjadi. Seolah-olah ruang-waktu punya sistem keamanan sendiri, semacam satpam kosmik yang berkata, “Maaf, jalur ini ditutup demi konsistensi narasi.”
Tetapi ada juga bentuk siklik yang lebih kosmologis, bukan mesin waktu lokal.
Salah satunya adalah Conformal Cyclic Cosmology dari Roger Penrose. Dalam model ini, alam semesta tidak hanya memiliki satu Big Bang dan satu akhir mutlak, melainkan rangkaian siklus kosmik. Masa depan sangat jauh dari satu alam semesta dapat, melalui transformasi konformal, menjadi semacam awal bagi siklus berikutnya.
Dengan kata lain, ini bukan cerita tentang seseorang masuk wormhole lalu muncul di hari kemarin. Ini lebih seperti sejarah kosmos yang tersusun dalam bab-bab besar: satu aeon berakhir, lalu bentuk geometrinya dapat dipahami sebagai awal aeon berikutnya.
Aku belum tahu apakah model semacam itu menjawab pertanyaanku. Mungkin tidak.
Pertanyaanku terlalu kecil dan terlalu nakal: dua observer, satu cangkir kopi, dua arah waktu yang saling membaca peristiwa secara terbalik.
Tetapi setidaknya aku mulai melihat sesuatu. Jika waktu hanya dibayangkan sebagai garis, pertanyaan ini segera menjadi tabrakan. Jika waktu dibayangkan sebagai geometri, pertanyaannya berubah.
Bukan lagi “mana yang maju dan mana yang mundur?”, melainkan “struktur macam apa yang memungkinkan arah-arah itu muncul?”
Mungkin waktu bukan hanya sesuatu yang mengalir.
Mungkin waktu adalah bentuk.
Dan jika ia memang punya bentuk, mungkin pertanyaan paling aneh bukanlah “apa yang terjadi sebelum awal?” atau “apa yang terjadi setelah akhir?”
Mungkin pertanyaannya lebih sederhana, lebih kecil, dan lebih menyebalkan:
Kalau cangkir itu pecah untukku, apakah ia sedang pulih untukmu?
Pertanyaan ini tentu tidak akan selesai dengan 500 bocoran jawaban ujian, karena sistem pendidikan yang hanya membagikan jawaban sering lupa mengajarkan cara memperlakukan pertanyaan.
Dan mungkin justru di situlah letak masalahnya: beberapa pertanyaan tidak meminta kunci jawaban. Mereka meminta ruang untuk tetap hidup.
Tidak ada bukti langsung bahwa waktu berbentuk lingkaran. Tetapi secara matematis, beberapa bentuk ruang-waktu memang mengizinkan kemungkinan yang lebih aneh daripada garis lurus.
Kamu melarangnya?
Oke sih.