Beberapa waktu lalu, aku melempar sebuah pertanyaan sederhana di Quora tentang kemungkinan dua arah waktu yang berbeda saling bertemu.

pertanyaanku
Salah satu jawaban yang kuterima terasa cukup tajam:


Saat membacanya rasanya seperti dilempar penghapus papan tulis oleh profesor tua.
Pedas. Tapi setelah kupikir ulang, kritik itu sebenarnya tidak sedang menyerang idenya, tapi caraku membingkai pertanyaan. Dia membaca pertanyaanku dengan asumsi klasik: waktu sebagai satu garis lurus (linear).
masa lalu → sekarang → masa depan
Dalam model itu, benar. Tidak ada “dua diriku” yang bisa bertemu. “Diriku kemarin” dan “diriku besok” hanyalah titik berbeda di jalur yang sama. Pertemuan mereka terjadi lewat kontinuitas identitas dan ingatan. Logikanya rapi.
Tapi pertanyaanku sebenarnya lebih seperti ini:
“Bagaimana kalau ada dua observer yang bergerak melalui waktu dengan arah berlawanan?”
Observer A: masa lalu → masa depan Observer B: masa depan → masa lalu
Nah. Ini sepertinya bukan lagi soal identitas atau waktu di ingatan, tapi soal struktur geometri waktu.
Aku coba pecah: Jika waktu linear, dua orang dengan arah temporal berlawanan mungkin bisa bertemu, tapi hanya jika ada titik sinkronisasi bersama.
Bayangkan arah waktu:
Mereka bisa bertemu di satu titik tengah jika “bertemu” didefinisikan dalam koordinat eksternal. Ini yang paling memusingkan bagiku. Jika B melihat menua adalah kembali jadi anak-anak, itu karena “masa depan” bagi B adalah “masa lalu” bagi A.
Bagi A: Anak-anak $\rightarrow$ Akan dewasa Bagi B: Dewasa $\rightarrow$ Akan jadi anak-anak.
Jika mereka bertemu,sulit membayangkan seperti apa pengalaman subjektif di titik itu. Mungkin bukan waktu berhenti tapi pemahamanku tentang waktu yang mulai kehilangan bentuknya.
ketika aku mencoba membayangkan dalam model linear ini, interaksinya menghasilkan Anomali Biologis.
Bayangkan observer B yang seharusnya sedang “tumbuh mundur” menuju masa kanak-kanak, tiba-tiba harus berinteraksi dengan observer A yang sedang tumbuh dewasa. (observer B dari sudut pandang A, tampak bergerak mundur menuju masa kanak-kanak. tapi observer B mengangap tumbuh ke masa kanak kanak “normal”)
Secara fisik, ini menciptakan disonansi: apakah sel-sel mereka harus membelah atau menyatu?
Di titik ini, kepalaku hampir pecah. Model linear ini membuat pertemuan dua arah waktu terasa seperti kecelakaan kosmik yang mustahil diproses otak. Tapi, bagaimana jika masalahnya bukan pada arahnya, tapi pada bentuk lintasannya?
Profesor tua itu benar bahwa bahasaku “sloppy” jika dipaksakan masuk ke dalam penggaris linear yang kaku. Tapi bagaimana jika waktu tidak membentang dari ujung ke ujung, tapi melingkar seperti Siklus Sel atau Homeostasis?
(Bersambung …..)