Siapa yang Berhak Membuat Angka Pertumbuhan Sebagai Nilai Mutlak? Seperti ini |Pertumbuhan| = Pertumbuhan

Mari kita mulai dengan sebuah pertanyaan yang mungkin jarang diberi ruang di kelas ekonomi atau ruang rapat pembangunan: siapa sebenarnya yang memberi otoritas kepada sistem ekonomi modern untuk memperlakukan angka pertumbuhan seolah-olah memiliki nilai moral mutlak?

Di dalam banyak narasi pembangunan, |Pertumbuhan| = Pertumbuhan diperlakukan seperti berhala modern: sebuah entitas sakral yang harus diterima tanpa banyak keberatan. Ketika pertumbuhan diumumkan naik sekian persen, kita seolah-olah diharapkan bersorak, tanpa selalu diberi kesempatan untuk bertanya: pertumbuhan apa, bagi siapa, dengan biaya apa, dan kehilangan apa?

Di sinilah bias kekuasaan bekerja dengan tenang. Angka tidak hanya menjadi alat ukur, tetapi juga alat legitimasi, menentukan mana yang disebut kemajuan, mana yang disebut hambatan, mana yang dianggap produktif, dan mana yang boleh dikorbankan demi grafik yang keliatan naik.

Esai ini tidak berangkat dari anggapan bahwa semua pertumbuhan ekonomi pasti buruk. Yang ingin aku bongkar adalah cara pertumbuhan diperlakukan sebagai tanda kemajuan yang hampir mutlak, sementara kerusakan ekologis yang menyertainya sering disingkirkan sebagai biaya luar, efek samping, atau sekadar eksternalitas. Dengan sistem hitung seperti ini, kerusakan bisa terlihat seperti pertumbuhan bukan karena realitasnya berubah, tapi karena metriknya terlalu sempit untuk melihat apa yang sedang hilang.

Seperti yang sudah kubahas dalam esai sebelumnya, ekonomi bukan sistem yang berdiri di luar ekosistem, melainkan sistem turunan yang bergantung pada stabilitas biosfer.

Yang Dihitung Menjadi Nyata

Dalam sistem akuntansi modern, realitas sering mengalami distorsi yang akut.

Hanya sesuatu yang bisa diterjemahkan ke dalam nominal uang yang memperoleh hak untuk dianggap “nyata”.

Kompleksitas jasa ekosistem, bagaimana mikroorganisme menjaga kesehatan tanah, bagaimana jejaring miselium mendistribusikan nutrisi, atau bagaimana keanekaragaman hayati menjaga stabilitas sebuah kawasan, sering diperlakukan seperti hantu yang berkeliaran di luar spreadsheet ekonomi.

Mereka dikategorikan secara sepihak sebagai “eksternalitas”, sebuah istilah yang terdengar teknis, tetapi sering berfungsi sebagai cara halus untuk mengatakan bahwa sesuatu berada di luar pusat perhatian.

Sebaliknya, ketika tanah itu dikeruk, ekosistemnya dihancurkan, dan digantikan oleh beton yang menghasilkan perputaran uang, seketika itu juga ia menjadi “nyata” di mata pasar.

Kita telah menukar realitas biologis yang menghidupi kita dengan sistem nilai yang hanya mampu melihat sesuatu setelah ia masuk ke dalam transaksi.

Pertumbuhan Relatif yang Dipaksa Menjadi Absolut

Ini adalah salah satu absurditas besar yang dipelihara secara kolektif: pertumbuhan PDB pada dasarnya adalah indikator relatif.

Ia mengukur perubahan nilai aktivitas ekonomi dari satu periode ke periode lain. pertumbuhan PDB adalah perbandingan, sebuah gerak statistik, bukan ukuran mutlak kesejahteraan, kesehatan ekologis, atau kualitas hidup.

Namun, dalam narasi pembangunan mainstream, pertumbuhan relatif ini sering dipaksa bertransformasi menjadi ukuran absolut kemajuan manusia.

Kita terjebak dalam delusi bahwa grafik linear harus terus menanjak tanpa batas, seolah-olah bumi memiliki ruang dan sumber daya yang tidak bertepi untuk menampungnya.

Memperlakukan pertumbuhan relatif sebagai nilai absolut di dalam planet yang terbatas adalah kesalahan yang serius. Dan kita sedang membayar harga dari kesalahan itu hari ini.

Sepertinya Hutan Tidak Bernilai Sama Sekali

Ironi dari sistem ini terlihat jelas ketika kita mengamati sebidang hutan.

Selama hutan itu berdiri, memurnikan udara, menampung banyak spesies, menjaga siklus air, menahan tanah, dan menopang mikroiklim lokal, akuntansi konvensional sering meliriknya dengan sebelah mata lalu bergumam: “Tempat ini tidak memberikan kontribusi yang cukup pada pertumbuhan ekonomi.”

Hutan yang hidup dianggap menganggur dan tidak produktif.

Namun, bawa masuk buldozer, tebang pohonnya, jual kayunya ke pasar, lalu ubah lahannya menjadi monokultur, kawasan industri, atau lubang tambang. Seketika itu juga, ada aktivitas ekonomi yang bisa dicatat: alat berat disewa, pekerja dibayar, kayu dijual, lahan diproses, investasi masuk, dan angka bergerak.

Grafik ekonomi bisa mencatatnya sebagai prestasi. Hutan baru dianggap berguna justru setelah ia mati dan berhenti menjadi hutan.

Sederhananya, sistem ini sering lebih mudah menghargai mayat alam daripada kehidupan alam yang utuh.

HUTAN HIDUP
Nilai ekologis
Menyimpan karbon
Menjaga air dan tanah
Menopang biodiversitas
Sering tidak terlihat penuh dalam metrik pasar
Nilai transaksi
Hutan ditebang
Kayu dijual
Alat berat disewa
Lahan dikonversi
Aktivitas ekonomi tercatat naik

Diagram sederhana ini tidak menunjukkan bahwa hutan hidup tidak bernilai. Justru sebaliknya: ia menunjukkan bahwa sistem pengukuran kita sering lebih cepat mengenali transaksi daripada kehidupan.

Tidak Semua yang Tumbuh Hidup

Pada akhirnya, kita harus membersihkan lensa kacamata kita untuk melihat realitas dengan lebih jujur.

Dalam biologi, tidak semua yang tumbuh membawa kehidupan. Pertumbuhan adalah fase, bukan tujuan tanpa akhir. Sebuah organisme tumbuh hingga mencapai kedewasaan tertentu, lalu sebagian energinya dialihkan untuk pemeliharaan, reproduksi, dan homeostasis.

Ketika sebuah sel terus membelah tanpa batas dan mengabaikan sinyal dari lingkungan sekitarnya, kita tidak menyebutnya kemajuan. Kita menyebutnya gangguan.

Dalam pengertian ini, pertumbuhan ekonomi yang tidak mengenal batas mulai menyerupai logika patologis: ia mengambil sumber daya dari sistem hidup di sekitarnya, memperbesar dirinya sendiri, lalu melemahkan fondasi yang membuat keberadaannya mungkin.

Kita perlu ingat: sebuah pohon tidak terus tumbuh tinggi tanpa akhir. Pada titik tertentu, ia memperkuat batangnya, memperluas kanopinya, berbuah, menjadi tempat hidup organisme lain, dan meneduhkan sekelilingnya.

Jika sistem ekonomi kita tidak tahu kapan harus berhenti mengejar pertumbuhan kuantitatif, maka ia bukan sedang menuju kemajuan. Ia sedang berjalan menuju keruntuhan yang ditulis dengan bahasa statistik.

Rujukan Ringkas

  • World Bank – Natural Capital
    Rujukan ini relevan untuk memahami gagasan modal alami, yaitu bahwa hutan, air, tanah, biodiversitas, dan jasa ekosistem bisa dipahami sebagai fondasi material yang menopang ekonomi. Konsep ini berkaitan dengan argumen dalam esai ini tentang bagaimana sistem ekonomi sering gagal melihat nilai ekologis sebelum ia berubah menjadi transaksi pasar.
    https://www.worldbank.org/ext/en/topic/environment/natural-capital

  • The Dasgupta Review – The Economics of Biodiversity (2021)
    Rujukan ini mendukung gagasan bahwa ekonomi manusia tidak berada di luar alam, melainkan tertanam di dalam sistem alam. Ini sejalan dengan kritik utama esai: pertumbuhan ekonomi tidak bisa dipahami secara utuh jika kehilangan biodiversitas dan kerusakan ekosistem dibiarkan berada di luar neraca.
    https://www.gov.uk/government/publications/final-report-the-economics-of-biodiversity-the-dasgupta-review

  • World Bank – The Changing Wealth of Nations
    Rujukan ini relevan karena membahas bahwa kekayaan suatu negara tidak hanya terdiri dari modal buatan manusia dan modal manusia, tetapi juga modal alami. Ini memperkuat kritik terhadap indikator ekonomi yang terlalu sempit ketika menilai kemajuan.
    https://www.worldbank.org/en/topic/environment/publication/changing-wealth-of-nations