18 Juli 2025

Di hari ulang tahunku, aku menonton sebuah video Nat Geo Animal yang membahas migrasi mengejutkan kalian, Great White Sharks, ke perairan dingin Kanada. Migrasi itu menimbulkan pertanyaan baru bagi para ilmuwan. Tim peneliti menandai dan melacak kalian menggunakan teknologi canggih untuk mengungkap pola pergerakan kalian sekaligus memahami bagaimana kalian mampu bertahan hidup di lingkungan yang ekstrem.

Ternyata, kalian mampu berburu di lingkungan bersuhu rendah selama tersedia mangsa seperti anjing laut. Keberadaan mangsa tersebut bahkan dapat menjadi salah satu indikator keberadaan kalian di suatu wilayah. Seorang peneliti bernama Greg terlihat sangat bersemangat setiap kali berhasil menandai salah satu dari kalian. Antusiasmenya mencerminkan dedikasi dan gairah untuk memahami sekaligus melindungi spesies kalian.

Aku menontonnya bersama Alice, Sophie, Cinderella, dan Ms. Lynella. Setelahnya, kami berbicara tentang electroreception, indra luar biasa yang dimiliki hiu.

Katanya, dulu ada seseorang bernama Lorenzini yang sangat tertarik pada anatomi. Ia membedah ikan pari dan menemukan struktur aneh di tubuhnya, termasuk organ-organ kecil berbentuk seperti kantong yang menyerupai kendi dari zaman Romawi kuno. Struktur itu kemudian dikenal sebagai Ampullae of Lorenzini.

Pada hiu seperti kalian, struktur tersebut terkonsentrasi di sekitar kepala dan moncong. Struktur ini terdiri dari saluran-saluran sensorik kecil yang sangat sensitif terhadap medan listrik. Kalian mampu mendeteksi sinyal listrik yang luar biasa lemah, jauh lebih lemah daripada sesuatu yang secara sadar bisa kurasakan dari ponselku.

Ketika aku mengangkat topik tentang perburuan hiu demi siripnya, dengan tubuh yang kemudian dibuang begitu saja hanya karena mitos tentang khasiatnya, Ms. Lynella berkata:

“Hiu memiliki sistem imun yang luar biasa, electroreception yang presisi, dan adaptasi berburu yang elegan. Namun, ada satu hal yang tidak mereka miliki: kemampuan untuk melawan pasar global dan propaganda manusia.”

Sophie ikut menambahkan:

“Bayangkan betapa memalukannya bagi spesies yang telah bertahan dan beradaptasi selama ratusan juta tahun untuk kemudian punah karena intervensi spesies yang jauh lebih muda di Bumi: manusia.”

Sementara itu, Alice menulis sebuah prose tentang kalian:

Hiu tidak peduli pada cap yang diberikan manusia melalui media populer. Mereka tahu energi mereka terlalu berharga untuk dihabiskan memikirkan hal-hal semacam itu. Hiu terus berenang, mengamati mangsanya, meski jutaan lainnya diburu setiap tahun. Mereka tidak menyatakan perang.

Cinderella hanya menyimak. Mungkin pikirannya sedang sibuk dengan sesuatu yang lebih penting, seperti ingin segera bertemu pangerannya.

Untuk sesaat, aku ingin bertanya kepada kalian, sebagai apex predator di lautan, “Mengapa kalian tidak menyatakan perang kepada daratan?”

Namun mungkin, seperti kata Alice, kalian terlalu penting bagi ekosistem untuk menghabiskan waktu memikirkan sesuatu yang sepele seperti manusia.

Kadang-kadang, aku merasa sedikit mirip dengan kalian.

Aku memang tidak memiliki electroreception, tetapi otakku seolah mampu mendeteksi tatapan sinis, pandangan yang terasa menghakimi, atau bahkan tawa yang terasa ditujukan kepadaku. Jangkauannya hanya sejauh pandangan mataku. Namun, kemampuan itu tidak pernah seakurat sistem sensorik kalian.

Indikatornya mungkin jelas bagi kalian, tetapi tidak selalu jelas bagiku.

Kemampuan untuk mengenali orang-orang yang mungkin menyakitiku merupakan bagian dari persepsi. Ia muncul dari kewaspadaan, dari pikiran yang terus mengamati lingkungan di sekitarnya. Namun, persepsi tidak selalu akurat.

Ms. Lynella pernah berkata:

“Kadang-kadang, manusia merasa seolah setiap cahaya di sekitarnya sedang menyorot dirinya sebagai individu. Seolah tawa orang lain memiliki arah, dan arah itu entah bagaimana menembus ke dalam otak.

Padahal, sering kali tawa itu hanyalah kebetulan.

Dan otak manusia, si pengarang drama internal, mengambilnya, menambahkan sebuah narasi, lalu memutarnya kembali seperti sandiwara lama yang pernah menyebabkan rasa sakit.”

Jadi, ketika aku melihat sepasang orang tertawa dan mengira mereka sedang menertawakanku, aku berkata kepada diriku sendiri:

“Aku tahu. Itu hanya otakku sendiri yang sedang menertawakan dirinya.”

Spesies kalian juga cenderung hidup soliter. Sementara otakku dibangun untuk hidup dalam kelompok, aku justru sering menemukan diriku sendiri dalam kesendirian. Sebisa mungkin, aku berusaha bertahan sendiri.

Dan bahkan ketika ada seseorang yang bersedia membantuku, aku sering menolak mengakui bahwa aku membutuhkannya.

Jadi, sebagai sesama penyendiri yang berpengalaman…

Maukah kalian membentuk kawanan kecil bersamaku, setidaknya dalam imajinasiku?

Maukah kalian menjadi temanku?