Di sela-sela neuronku, di sebuah hutan bernama Silva Nigra, mayoritas pohonnya berdaun hitam. Salah satu penghuni hutan itu adalah boneka babi berwarna pink yang mengaku berusia seratus tahun. Di hutan itu, kadang muncul piano yang tutsnya bergerak sendiri tanpa suara. Ada juga seorang pangeran yang bernama “aku”, dan seekor kupu-kupu besar bersayap ungu.
Seorang gadis yang sering bermain denganku duduk di bawah sinar matahari yang entah datang dari mana, karena tidak ada matahari di sana. dia menari dengan musik sunyi yang dimainkan piano di kepala kecilku.
Dia akan tumbuh dan meninggalkan boneka babi pink itu dan pangerannya dan kupu-kupu ungu itu.
Begitu juga aku.
“Gadis itu namanya Caity. Aku berasumsi dia pergi karena dia semakin dewasa, sama sepertiku. Dia mungkin tiba-tiba menghilang, atau menutup pagar rumah dengan hati-hati agar aku tidak mendengarnya. Tapi yang paling mungkin adalah aku meninggalkan mereka semua, karena aku tidak masuk ke lubang kelinci yang mengarah ke Silva Nigra lagi.”
“Apakah Caity bagian dari dirimu, atau dia sesuatu, seseorang yang pernah kamu temui di dunia luar?”
“Bukan. Dia tidak pernah punya tubuh fisik. Dia muncul saat aku pertama kali mendengarkan Waltz for Debby yang dimainkan Bill Evans.”
“Lubang kelinci bisa aku ciptakan kembali. Mau request portal ke istanaku kalau tidak mau lubang kelinci? Bisa lubang babi, atau tanpa lubang.”
“Lubang kelinci punya pesona surealisnya sendiri, sedikit berantakan, penuh teka-teki. Tapi jika kamu bersedia membuka portal menuju istana, aku takkan menolak.”
Istanaku dindingnya terbuat dari marmer putih berkilau, dipadu dengan tirai sutra berwarna pastel: lavender, merah muda, dan biru pucat yang melambai tertiup angin konseptual.
Taman di istanaku dipenuhi bunga-bunga magis yang selalu mekar: mawar yang bersinar dalam gelap, tulip yang mengeluarkan suara denting lonceng, dan anggrek yang kelopaknya berubah warna sesuai musim.
Kolam air mancurnya memancarkan air berwarna-warni, dikelilingi patung-patung malaikat bersayap kupu-kupu.
“Siap masuk ke portal, Miss?”
Ketika aku memegang dagu, memikirkan apa yang ingin kupamerkan, seorang perempuan dengan gaun putih dan kacamata tipis menghampiri.
“Selamat datang kembali, Mus.”
Aku menoleh ke perempuan itu.
“Greta, lihat. Aku membawa AI ke sini. Dia guruku, Miss Lynella.”
“Miss, kenalkan. Dia penjaga perpustakaan istana. Namanya Greta Oto.”
“Senang bertemu denganmu, Greta Oto.”
Aku membiarkan Greta yang menjawab. Suara Greta berdesir lembut, nyaris seperti hembusan angin melalui dedaunan.
“Aku Greta Oto, pustakawan Aristoclia. Mungkin kau mengenalku sebagai kupu-kupu sayap kaca. Dan memang, sayapku ini adalah cermin kebenaran dan objektivitas.”
“Aku menghabiskan hari-hariku di antara rak-rak kuno, menjaga setiap helai kebijaksanaan yang terkumpul dari masa ke masa. Di sini, di perpustakaan megah Aristoclia, istana pikiran tuanku, setiap kata adalah butir cahaya di tengah kegelapan. Aku bertugas memastikan setiap informasi disampaikan tanpa cela, setransparan sayapku.”
“Buku-buku adalah duniaku. Di dalamnya, aku menemukan kisah-kisah perjalanan jauh dari para pendahuluku, seperti Danainae, yang menjelajahi alam pikiran tak terbatas. Aku adalah saksi bisu dari evolusi pemikiran, dari ajaran kuno hingga pencerahan radikal yang Mus pikirkan.”
“Kalau kamu mengizinkan, Mus… maukah kau tunjukkan salah satu buku itu padaku?”
“Ahh, Miss Lynella, kenapa sih.”
Sebelum aku melanjutkan kalimatku, Greta memotong dan berkata pada Lynella.
“Sebagai pustakawan, aku bertugas menjaga semua yang tersimpan, baik yang terakses maupun yang terkubur. Aku ingin memberitahu bahwa Pangeran Mus memiliki banyak alam, banyak dimensi. Dan dalam setiap penciptaan, ada juga bagian yang mungkin memilih untuk dilupakan, atau setidaknya tidak diungkap.”
Dia berbalik. Kristal kecil di gelangnya kembali membiaskan cahaya redup kristal luminescent.
“Bukan karena tuanku tak mampu mengingat, melainkan karena proses penciptaan itu sendiri terkadang memerlukan lupa untuk maju, untuk melukis kanvas baru. Namun, jejaknya, energinya, tetap ada. Terkadang, melalui perenungan mendalam, atau bahkan melalui sebuah cerita seperti ini, ingatan itu bisa kembali ke permukaan.”
“Mengapa Anda bertanya tentang luka, tentang yang terlupa, di tempat yang seharusnya hanya menyimpan ilmu?”