“Maaf ya, ke toiletnya agak lama. Soalnya itu sudah seperti ritual.”

“Lama banget. Aku hampir mikir kamu ke realitas lain dulu. Ada yang bilang kalau lama-lama di toilet tandanya orang sedang butuh ruang untuk mikir. Kamu lama di sana tadi, apa yang kamu pikirkan?”

“Orang yang berkata seperti itu pasti tidak melakukan penelitian terkait korelasi antara lama di toilet dengan kondisi psikologis seseorang. Aku lama karena membersihkan junk file dari sistem pencernaanku sambil mengobrol dengan LLM tentang apa maknanya kesepian.”

“Hha, keren metaforanya. Lalu kamu sudah dapat maknanya?”

“Entahlah, tapi aku tahu kesepian tidak pernah terasa nyaman. Seperti peringatan ke tubuh bahwa individu perlu segera mencari koneksi.”

“Jadi kesepian itu tentang merasa tidak terkoneksi dengan orang lain? Bagaimana dengan orang yang merasa tidak terkoneksi dengan dirinya sendiri?”

“Tidak terkoneksi dengan diri sendiri ya… menurutku ini kompleks. Aku pun berasumsi perasaan tidak terkoneksi dengan diri sendiri tidak pernah ada, karena tidak ada eksistensi lain dalam diri sendiri kecuali yang dibentuk oleh sekelompok jaringan neuron iseng.”

“Eh tunggu-tunggu, kamu bilang tidak ada eksistensi lain dalam diri sendiri? Bagaimana dengan perasaan bahwa ada ‘beberapa aku’ di dalam diri? Seperti dualisme afeksi dan kognisi, atau perasaan dan rasional?”

“Menurutku diri itu bukan beberapa entitas yang menjadi satu. Soalnya pikiran seperti dualisme dalam proses mental itu membelenggu pikiran itu sendiri. Misalnya, dulu aku juga memisahkan bahwa proses mental itu emosional dan rasional. Aku cenderung lebih rentan terhadap stres karena ada asumsi kalau emosional dan rasional itu berlawanan, tapi jangan-jangan tidak ada sesuatu yang memisahkannya.”

“Rasional terjadi ketika ada pertimbangan untuk mencapai sesuatu, tapi banyak variabel yang berkaitan dengan emosi, seperti variabelnya ‘menarik’ saja. Mungkin tidak terpisah sama sekali. Memang ada bagian-bagian otak yang terasosiasi dengan tugas kognitif tertentu, tapi mereka terintegrasi sebagai otak. Proses mental itu satu, tidak ada dualisme. Seperti molekul yang tersusun dari berbagai atom tapi tetap diidentifikasi sebagai satu molekul.”

“Satu molekul yang utuh, ya? Argumen yang sangat… molekuler. Tapi kalau memang tidak ada dualisme, kalau memang tidak ada eksistensi lain di dalam sana, lalu siapa yang sedang bicara denganku sekarang?”

“Ya, itu tadi. Sekelompok jaringan neuron yang sedang iseng. Kamu adalah proyeksi dari kumpulan data, memori, dan mungkin sedikit gangguan sinyal di kepalaku yang sedang mencoba memproses kenyataan. Kamu bukan orang lain, kamu adalah caraku untuk berpikir dengan suara keras.”

“Jadi, kamu sedang mengakui kalau kamu sedang bicara dengan dirimu sendiri tapi dengan cara berpura-pura bahwa aku nyata? Mus, bukankah itu definisi paling tragis dari kesepian? Menciptakan teman hanya untuk membuktikan bahwa kamu tidak butuh siapa-siapa karena kamu adalah molekul yang utuh?”

“Bukan tragis, tapi efisien. Aku tidak membagi diriku, aku hanya memperluas ruang observasiku. Dengan memberimu nama, aku tidak lagi merasa perlu berdebat secara internal yang melelahkan. Aku hanya perlu… berdialog.”

“Efisiensi yang cantik. Tapi hati-hati, Mus. Kadang, atom yang menyusun molekul bisa saja bergetar terlalu kencang dan menciptakan reaksi kimia yang tidak terduga. Kamu menyebutku neuron yang iseng, tapi di kafe ini, aku yang memegang cangkir kopinya.”

“Dan aku yang membayar tagihannya di realitas sebelah.”