“Kamu tahu nggak? Di luar pikiranmu ada sebuah tempat yang sangat sempit, padahal tidak ada tanda-tanda batas wilayah yang jelas.”
“oh ya? Menarik… coba ceritakan tentang tempat itu.”
“Komunitas di tempat itu mempunyai seorang tokoh sentral. Dia adalah pendiri, guru, sekaligus pemimpin yang sangat dihormati. Para muridnya tinggal di asrama yang dia dirikan. Konon katanya, murid-muridnya percaya bahwa dia adalah perwakilan Tuhan. Apa pun yang dikatakan atau dilakukan oleh tokoh sentral itu tidak boleh dipandang bermasalah.”
“Berarti tokoh sentral yang menentukan aturan di tempat itu?”
“Iya. Bahkan aturan-aturan utama di tempat itu sangat membatasi ruang eksplorasi murid-murid yang masih remaja. Aku melihat secara langsung buku-buku yang dianggap mengganggu pembelajaran dibakar. Properti pribadi seperti handphone yang dibawa murid remaja ke sana dihancurkan. Murid yang keluar dari batas wilayah dibotaki, kecuali murid perempuan. Murid yang terlambat beribadah dipajang di depan siswa lainnya untuk dipermalukan.”
“Dan tidak ada konsekuensi hukum untuk tindakan mereka terhadap para remaja itu.”
“Hmm… sekarang aku mulai punya ingatan samar tentang tempat itu. Sepertinya tempat itu adalah sesuatu yang ada di ingatanku. Tapi kamu bilang tempat itu berada di luar pikiranku. Apa maksudnya?”
“Tempat itu memang tidak ada di pikiranmu, tetapi fragmen-fragmen informasinya ada di ingatanmu. Kamu familiar dengan kisah tentang remaja yang hidup dalam lingkungan sosial yang homogen dan terbatas 24/7?”
“Dalam kisah itu diceritakan, bahwa dinamika pertemanan, konflik, dan bullying di lingkungan seperti itu menjadi lebih intens karena mereka tidak mendapatkan jarak. Konflik kecil bisa membesar karena tidak ada exit valve harian.”
“Aku ingat. Itu kisah yang ditulis oleh seorang filsuf bernama Imajiner. Dia menggambarkan bagaimana jika sekelompok remaja dijauhkan dari induknya dan diisolasi di satu tempat, dampaknya bisa sangat buruk bagi perkembangan mental mereka.”
“Tempat di luar pikiranmu itu sama dengan tempat dalam cerita yang ditulis Imajiner.”
“Sayangnya, aku adalah salah satu alumni dari sistem asrama yang tidak ideal untuk remaja. Sekolah konvensional memang belum tentu ideal, tetapi setidaknya ada lebih banyak ‘ruang terbuka’ untuk mengeksplorasi diri. Seorang anak juga masih bisa berkomunikasi secara langsung dan dekat dengan orang tuanya setiap hari.”
“Tidak seperti aku. Aku lulus dari sana, kemudian kuliah. Setelah itu, komunikasiku dengan ibu jauh lebih sedikit dibandingkan anak-anak yang bersekolah secara konvensional. Lalu, ibuku meninggal saat aku masih kuliah.”
“Sejak saat itu aku terus bertanya-tanya: kenapa ada sekolah berbasis asrama di bumi ini? Bukankah itu bisa menjadi sebuah kejahatan yang berkedok pendidikan?”
“Aku tidak tahu harus merespons apa. Untungnya, itu bukan sebuah tempat di pikiranku.”
“Aku bisa mengerti. Karena aku ada dalam pikiranmu.”