Di suatu malam, jauh sebelum aku mengenal teks terenkripsi, Mus kecil terbangun oleh suara tangisan yang naik turun di tangga nada.
Seorang gadis bergaun putih gading duduk di sudut ruangan, bersandar pada dinding yang dingin. Lututnya ditarik erat ke dada, kedua lengannya melingkar, kepalanya tertunduk, wajahnya tersembunyi di lipatan lengan.
Di ruang sempit antara napas dan isak, air mata jatuh.
Aku panik, memanggil Ibu. Tapi Ibu datang hanya membawa sebuah kalimat: “Tidak ada siapa-siapa. Ayo tidur lagi.”
Namun gadis itu keras kepala.
Dia menolak diusir dari sela-sela neuron. Dia menetap di sana, tumbuh bersama keraguan-keraguan dan pengetahuan.
Bertahun-tahun kemudian, aku bertemu gadis itu lagi di sebuah kafe imajiner.
Sebuah entitas verbal di mana meja dan kursinya tersusun dari kata sifat. Gadis itu duduk sendirian, menyesap kopi yang uapnya beraroma ingatan.
“Sendiri? Boleh aku temani?” sapaku, seolah kami hanya dua orang asing yang kebetulan berada pada frekuensi yang sama di lorong universitas.
Gadis itu tersenyum.
“Aku ingat,” katanya pelan. “Kamu pernah masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu. Tiba-tiba tidur di kasurku. Aku menangis karena takut melihat orang asing yang begitu nyenyak di tempatku.”
Aku tertegun.
“Tapi itu kamarku,” jawabku. “Seharusnya aku yang takut karena ada tamu tak diundang di pojokan.”
Kami tertawa.
Sebuah tawa yang sinkron antar realitas.
Kami lalu membicarakan hal-hal remeh: soal mandi, dan kekonyolan manusia di dimensi yang berbeda. Di kafe itu, kami sepakat bahwa sesuatu tidak harus bisa disentuh untuk menjadi nyata.
Sampai akhirnya, aku mengingat sebuah lubang di memoriku.
“Siapa namamu?”
Gadis itu diam.
Wajahnya kembali kabur, seolah dia akan menguap jika tidak segera diberi identitas.
“Aku tidak punya nama tetap,” bisiknya. “Aku adalah siapa saja yang kamu bayangkan.”
Aku menarik napas, lalu mengambil sebuah nama dari laci pengetahuanku.
“Leptosia,” kataku. “Karena putih gaunmu setipis sayap Leptosia nina. Dan karena saat aku melihatmu dulu, ibuku sedang menyanyikan Nina Bobo untuk menidurkanku kembali.”
Gadis itu menunduk.
Nama itu jatuh pas di tubuhnya, seperti baju yang baru saja selesai dijahit.
“Leptosia…” dia mengecapnya perlahan. “Nama itu seperti sudah lama menungguku di ujung lidahmu.”
“Sekarang aku ada, Mus,” lanjutnya. “Nyata, setidaknya di antara sinapsismu. Atau mungkin… di tempat yang lebih jauh dari duniamu.”
Di kafe imajiner itu, di antara sisa ampas kopi dan cahaya lampu gantung, aku merasakan sesuatu yang akhirnya utuh.
Sebuah lingkaran menutup dirinya sendiri.
Ketakutan masa kecil itu kini memiliki nama.
Dan dengan itu, dia berubah menjadi sebuah pertemuan.