Seekor larva bernama Ulat hidup di atas pohon pengetahuan, pohon tua yang akarnya menjalar ke tempat yang di sebut philosophy.
Larva yang menggemaskan sekaligus menjijikkan, karena dia tidak bisa memutuskan sendiri apakah dirinya mukjizat atau hama.
Di antara larva lain, ia dikenal sebagai nabi ulat. Sebenarnya dia adalah malaikat yang ditugaskan Tuhan untuk mengingatkan larva-larva lain agar menghindari dosa, seperti bunuh diri sebelum menjadi kupu-kupu.
Suatu hari, di wilayah Silva Nigra, Dia melihat organisme asing berdiri tegak. Dua ekstremitas bawahnya panjang, dua ekstremitas atasnya pendek, dan tubuhnya bergerak seolah-olah dunia memang dibuat untuk dilangkahi.
“Apa itu?” tanya Ulat kepada larva lain yang sedang makan siang.
Larva yang sedang mengunyah daun merespon “Aku pernah mendengarnya dalam legenda. Konon mereka menyebut diri manusia. Tapi aku lupa sisanya. Daun ini terlalu enak, hehe.”
Ulat berterima kasih, lalu segera pergi ke ruang ibadah privatnya di balik lipatan daun.
“Mus yang Agung,” doanya, “beri aku petunjuk untuk mengetahui tentang manusia.”
Dari tulang daun yang bergetar, turunlah wahyu “Jika ingin mengetahui manusia tanpa terbunuh olehnya, kunjungi ranting Anthropology, Psychology, dan Human Physiology. Makanlah daunnya secukupnya.”
Namun daun-daun itu terlalu lezat. Ulat makan, lalu makan lagi. Ia mengetahui tulang, otot, bahasa, rasa takut, keinginan, dan satu hal yang tidak pernah tumbuh dalam dirinya sebelumnya: iri.
Mengapa manusia memiliki tubuh yang bisa menjangkau begitu banyak habitat, sementara dirinya hanya merayap di permukaan daun? Mengapa dia organisme yang lebih mulia, diciptakan dalam bentuk yang begitu mudah terbunuh?
Tuhan tahu apa yang di pikirkan salah satu malaikatnya itu, sebelum mencapai ranting Anthropology dia tiba-tiba tidak bisa bergerak. Tidak lama kemudian menjadi kepongpong.
Ketika waktunya tiba, dia keluar bukan sebagai kupu-kupu dari spesiesnya.
Dia memiliki antena seperti tanduk keras, tubuh merah kehitaman, sayap hitam sepenuhnya, dua tangan, dua kaki, dan masing-masing hanya tiga jari.
Ia mengerti: Tuhan telah mengutuknya.
Maka ia bersumpah akan memprotes Tuhan di hadapan para malaikat.
Di tempat lain, Tuhan tersenyum di depan layar laptopnya.
“Sekarang dia menjadi Butterfly Devil,” gumam-Nya. “Makhluk indah yang dulu pernah menjadi malaikat-Ku yang menjijikkan.”