Di suatu sudut pikiranku, ada sebuah wilayah bernama Silva Nigra; hutan dengan daun-daun hitam
Di tengahnya berdiri Aristolochia, sebuah kastil yang tersusun dari biomolekul.
Di sanalah Troides helena bersemayam.
Di luar pikiranku, dia hanya kupu-kupu yang semakin jarang ditemukan, tersisih oleh eksploitasi manusia terhadap hutan tropis.
Ratu Helena dikenal sangat cantik. Forewing-nya hitam pekat, hindwing-nya kuning dengan corak gelap yang puitis.
Mereka yang tidak berani melukis di kanvas memilih mengawetkan tubuhnya.
Jarum disematkan.
Sayap hitamnya dibentangkan.
Kuningnya dipertontonkan.
Lalu mereka berdiri dengan bangga di hadapan bangkai itu, seolah baru saja menciptakan sesuatu.
Kemudian menjualnya sebagai butterfly art.
Di sana, Troides helena bukan ratu.
Dia hanya representasi manusia yang malas melukis.
Tapi tidak di sini.
Di dalam pikiranku, tempat realitas dipaksa tunduk pada apa yang menurutku seharusnya terjadi, dia adalah Ratu Helena.
Setiap kepakan sayapnya adalah penolakan terhadap eksploitasi hutan tropis yang membuat Aristolochia berkurang.
Aku dan dia tahu dunia di luar sana masih ada. Dunia yang akan dengan senang hati mengulang cerita yang sama: menemukan, mengagumi, lalu menghancurkan.
Dan mungkin itu satu-satunya alasan Helena tidak akan pernah benar-benar punah.
karena aku belum selesai membayangkannya.