<?xml version="1.0" encoding="utf-8" standalone="yes"?><rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"><channel><title>Ecological-Ethics on MuS</title><link>https://www.musnotes.my.id/tags/ecological-ethics/</link><description>Recent content in Ecological-Ethics on MuS</description><generator>Hugo</generator><language>id-ID</language><lastBuildDate>Sun, 31 May 2026 00:00:00 +0700</lastBuildDate><atom:link href="https://www.musnotes.my.id/tags/ecological-ethics/index.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/><item><title>Apakah Biosfer Harus Lebih Penting dari Manusia?</title><link>https://www.musnotes.my.id/digital-garden/silva-nigra/neural-gaps/my-questions/biosphere-before-humans/</link><pubDate>Sun, 31 May 2026 00:00:00 +0700</pubDate><guid>https://www.musnotes.my.id/digital-garden/silva-nigra/neural-gaps/my-questions/biosphere-before-humans/</guid><description>&lt;blockquote&gt;
&lt;p&gt;“Kalau kita benar-benar memprioritaskan biosfer di atas spesies kita sendiri, sejauh mana argumen itu bisa dibawa?”&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;
&lt;p&gt;Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi ia diam-diam membawa pisau kecil ke pusat etika manusia. Selama ini, banyak argumen konservasi alam tetap bergerak dalam orbit yang human-centered: hutan perlu dijaga karena memberi oksigen untuk manusia, laut perlu diselamatkan karena menopang pangan manusia, iklim perlu distabilkan karena peradaban manusia akan terganggu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tidak salah. Manusia memang bagian dari biosfer, dan penderitaan manusia bukan sesuatu yang bisa disapu dari meja diskusi. Namun, ada asumsi yang jarang diuji: apakah manusia harus selalu menjadi pusat moral dari seluruh percakapan ekologis?&lt;/p&gt;</description></item></channel></rss>